Antioksidan Asam Amino Taurine ; Pencegah Bahaya Akibat Merokok

Jeruk ; Sumber Vitamin C Alami

Jeruk ; Sumber Asam Amino Taurine (Vitamin C) Alami

“Aku Gemuk lagi, berat badanku normal kembali –

Aku bisa bangun pagi, mentaripun tersenyum lagi –

Hari-hari yang lalu telah mati

dan kini aku bangun lagi,

menggapai hari esok pasti bersemi”.

(Sebuah Kutipan Lagu

“Aku Gemuk Lagi”, BIP)

****

Bumi, tempat kita berpijak selama ini menyimpan berbagai misteri baik yang bisa dirasakan, dipikirkan dan diperbuat oleh organisme yang mendiaminya. Di antara berjuta-juta makhluk hidup yang tercipta di alam duniawi ini, ada satu yang merupakan organisme yang paling unik, yaitu manusia. Kekhasan yang membuat manusia selama ini memiliki nilai lebih daripada organisme lain yang “sama-sama” diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa adalah pada kemampuannya berpikir. Selanjutnya, buah pikiran yang dihasilkan dari kemampuan tersebut akan menjadi landasan untuk melakukan suatu tindakan yang terkordinasi secara sistematis dan logis.

Maka dalam hal ini, menurut C. Wright Mills, seorang ahli Sosiologi menyebut manusia sebagai Animal Imaginaticum, yang memiliki pengertian bahwa manusia adalah makhluk sosial yang mendasari seluruh aktivitas pada suatu konsep pikiran, yang diperoleh secara bertahap dari proses berpikir dan dilakukan secara sadar dengan akal dan jiwa yang sehat.

Gambaran singkat tersebut diatas, telah menunjukkan bahwa yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya adalah dari kemampuannya menggunakan pikiran untuk bertindak. Melalui koordinasi Panca Indra dan otak, maka secara perlahan-lahan akan melahirkan pengetahuan. Cara memandang ini sudah membuahkan hasil yang nyata hingga sekarang menjadi ciri manusia, sebagai makhluk yang berakal-budi.

Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan peradaban manusia, seringkali muncul suatu dilema fenomenologis yang menuntut komitmen pikiran manusia untuk memberikan jawaban perilaku yang tepat untuk dilaksanakan. Hal kontras dan perlu pengkajian mendalam itu adalah masalah yang memperlihatkan dua pilihan yang bertentangan, tetapi keduanya menginginkan keobjektifitasan dalam pengambilan keputusan, salah satunya yang sedang mencuat adalah dualisme “Merokok atau Sehat”. Segala kebijakan mengenai rokok dari sudut pandang ekonomi dan sudut pandang kesehatan menampilkan transparansi kontroversialnya problem ini.

Realitas yang relevan dan tentu saja berkaitan erat dengan kedudukan industri rokok adalah nilai kontribusi ekonomi cukup besar secara nasional yang berasal dari cukai, devisa dan pajak lainnya yang disetorkan ke kas negara. Selain fakta The Global Burden of Disease-WHO tahun 2003 yag menyebutkan hingga saat ini “Merokok” menduduki peringkat pertama “mengalahkan” kekurangan gizi sebagai penyebab kematian penduduk dunia pada tahun 2003 dengan jumlah hingga lebih dari 10 juta jiwa.

****

Ketika dunia sedang digemparkan oleh perang Irak-Amerika dan dunia kesehatan sedang berjuang menghadapi mewabahnya virus radang pernapasan akut atau lazimnya disebut “SARS” (Severe Acute Respiratory Syndrome). Walaupun bukan prioritas yang utama, agenda Hari Kesehatan Sedunia pada tanggal 7 April 2003 lalu, tetap merasa penting untuk membahas refleksi dari ancaman rokok.

Sangatlah beralasan kenapa hal tersebut perlu dibahas, dengan memfokuskan pada bagaimana membangun kesadaran publik untuk meredam perilaku merokok. Dikarenakan menurut penelitian World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa tiap-tiap rokok mengandung kurang lebih 4000 bahan-bahan kimia berbahaya yang dapat menimbulkan 25 macam penyakit mematikan.

Akan tetapi, hingga kini ternyata respon masyarakat dan pihak-pihak terkait terhadap kenyataan tersebut, masih rendah. Yang terlukiskan dengan penanganan terhadap penderita baik perokok aktif maupun perokok pasif yang belum dilakukan secara maksimal dan masih bersifat “sporadis”.

Belum adanya upaya ke arah pemecahan masalah rokok diatas, nampaknya juga tidak terlepas dari masih minimnya pengetahuan pemerintah dan masyarakat, serta pihak-pihak terkait lainnya. Di samping itu, dana yang dialokasikan untuk kesehatan masih terbilang rendah dibandingkan dana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rokok, dengan rata-rata sekitar 20 % dari pendapat per kapita penduduk dunia per tahunnya. Dan untuk negara Indonesia yang merupakan negara peringkat kelima konsumen terbesar rokok dunia, mendapatkan fakta bahwa pria Indonesia menghabiskan seperempat penghasilan per tahun hanya untuk memenuhi kebutuhan akan rokok.

Untuk itulah, diperlukan pembahasan yang “sederhana” untuk memenuhi kebutuhan pencegahan terhadap efek buruk daripada aktivitas merokok. Hal yang memiliki urgensi cukup besar mewujudkan tujuan di atas secara langsung maupun tidak langsung dan disesuaikan dengan suasana saat ini, yang ditujukan kepada masyarakat adalah terpenuhinya pemahaman akan bahaya merokok, serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan, misalnya melalui penggunaan Antioksidan sebagai tindakan preventif-alternatif.

Maka tidak mengherankan apabila semua itu diumpamakan sesuai dengan perkataan orang bijak bahwa “Suatu pekerjaan yang terasa berat, lebih ringan diselesaikan secara bertahap”.

****

Sebelumnya, bagaimanakah kondisi masyarakat di Indonesia, bagian dari masyarakat negara berkembang? Sudahkah masyarakat menyadari dan mengerti akan apa itu rokok dan bahaya dari aktivitas merokok itu sendiri? Sudahkah masyarakat mengetahui tata cara pencegahan, penanganan dan penanggulangananan dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan merokok, baik bagi penderita rokok aktif maupun pada penderita rokok pasif?

Selama ini, masyarakat Indonesia mengetahui makna merokok dan segala seluk-beluknya hanya sebatas “pembungkus” saja. Sebagian besar hanya mengerti sebagai konsumen, tanpa mengetahui secara jelas mengenai dampak di kemudian hari. Melihat fenomena yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia, tampaknya kondisi jawaban yang diinginkan masih belum tercapai.

Kebiasaan merokok adalah suatu aktivitas tua yang ada di muka Bumi, dari orang tua hingga anak-anak telah ikut terjangkit penularan kebiasaan buruk yang dapat menganggu kesehatan. Kebiasan merokok merupakan penyebab utama kematian penduduk dunia. Menurut telaah WHO, diperkirakan pada tahun 2030 nanti atau bahkan mungkin lebih cepat dari itu, satu dari sepuluh penghuni Bumi kita akan meninggal akibat asap rokok.

Rokok terbuat dari bahan baku daun tembakau yang diperoleh dari tanaman Nicotiana Tabacum L. Daun tembakau terlebih dahulu diolah, diproses kemudian dikemas dalam berbagai bentuk rokok, seperti cerutu, rokok putih, tembakau pipa dan lainnya. Komponen penyusun rokok dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu sebagai berikut :

1. Komponen Gas

Bagian yang dapat melewati filter ataupun hasil dari pembakaran tidak sempurna rokok, antara lain CO, CO2, Oksida-oksida Nitrogen, Amonia, Gas N-nitrosamine, Hidrogen Sianida, Sianogen, Peroksida, Oksidan Senyawa Belerang, Aldehid dan Keton.

2. Komponen Padat

Bagian hasil saringan yang tertinggal pada filter rokok, sebagian besar terdiri dari unsur Nikotin dan Tar.

Diantara zat-zat kimia itu yang paling berkaitan dengan hadirnya berbagai penyakit akibat merokok adalah (1) Tar yang mengandung bahan kimia beracun perusak sel paru dan penyebab kanker, (2) Nikotin yang merupakan jenis obat perangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah (Disfungsi Endotelial), serta dapat menimbulkan ketagihan, dan (3) CO (Karbonmonooksida) yang merupakan gas beracun yang menyebabkan penurunan kemampuan butir darah merah mengangkut oksigen. Pada akhirnya, semua bahan-bahan berbahaya rokok akan menstimulus produksi berlebihan dari radikal bebas atau oksidan dalam tubuh manusia.

Dari pembakaran tidak sempurna rokok akan dihasilkan Asap Utama (Main Stream Smoke) dan Asap Samping (Side Stream Smoke atau Secondhand Smoke). Asap utama adalah bagian asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok aktif dan telah disaring oleh filter rokok. Dan asap samping memiliki pengertian sebagai asap hasil pembakaran akhir tembakau yang tidak sempurna dan dapat dihirup oleh perokok pasif ataupun asap yang dikeluarkan kembali dari paru perokok aktif. Asap Samping inilah yang sangat besar pengaruhnya bagi kesehatan, karena jumlahnya yang cukup banyak dan kadar bahan berbahaya yang dikandung masih cukup tinggi, sehingga memungkinkan timbulnya berbagai penyakit yang tidak dikehendaki dan mematikan.

Jenis-jenis penyakit yang umum disebabkan aktivitas merokok, antara lain kanker paru, penyakit paru obstruktif kronis, kanker kardiovaskular, kanker saluran pencernaan, Impoten, kemandulan (Infertilitas), Ulkus Peptikum, kanker payudara, kanker rahim dan Aterosklerosis. Dari sekian jenis penyakit tersebut, Disfungsi Endotelial (Aterosklerosis) adalah penyebab tersering kematian akibat merokok. Dimana pembuluh darah yang terus-menerus terpapar oleh asap rokok serta-merta akan menyerupai pipa kaku, kasar dan berongga kecil. Akibatnya pembuluh darah tidak dapat melebar untuk melewatkan darah, terutama saat volume darah meningkat.

Keadaan ini dapat dicegah dengan mengkonsumsi Antioksidan, misalnya Asam Amino Taurine, Vitamin E, Vitamin C, β-Karoten dan lainnya. Dimana Antioksidan akan bereaksi menetralisir Oksidan beracun dari rokok. Selain tindakan preventif itu, dapat juga dilakukan tindakan kongkrit lainnya, misalnya dengan berhenti merokok atau menjauhi orang yang sedang merokok.

****

Terlepas dari berbagai permasalahan yang menghadang dan disesuaikan dengan keadaan masyarakat Indonesia, tentu semua pihak setuju bahwa peningkatan pemahaman terhadap penggunaan Asam Amino Taurine dan antioksidan lainnya sebagai upaya alternatif dan preventif mencegah bahaya merokok memiliki urgensi yang cukup besar.

Secara teoritis, Asam Amino Taurine (2-aminoethanesulphonic Acid) adalah asam amino semi-esensial yang mengandung gugus Belerang dalam struktur kimianya. Tidak seperti asam amino lain, taurine tidak ikut dalam sintesa protein dan banyak ditemukan dalam jaringan otot jantung dan otak manusia. Untuk kebutuhan akan taurine dengan konsentrasi tinggi dapat diperoleh dari jaringan otot mamalia (daging kerbau), ikan laut dan tiram.

Sebenarnya tubuh manusia secara alamiah mampu mensintesa taurine dari asam amino Sistein dan Methionin. Asam amino sistein dioksidasi menjadi taurine dengan bantuan Enzim Cysteine Sulfinic Acid Decarboxylase (CSAD) dan Pyridoxal-5-Phosphate (koenzim Vitamin B6). Akan tetapi, aktivitas enzim CSAD pada manusia relatif rendah dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Karena itulah, manusia tidak dapat mengharapkan kebutuhan akan taurine terpenuhi secara adekwat hanya dari hasil sintesa di dalam tubuh, melainkan juga diharapkan mengkonsumsi pangan yang mengandung sistein, seperti daging.

Sebuah penelitian di Irlandia yang dilakukan Bouchier-Hayes telah berhasil menunjukkan fungsi taurine sebagai antioksidan dari oksidan rokok, dimana taurine dapat mengembalikan atau melindungi keadaan normal pembuluh darah para perokok. Ketika oksidan rokok yang merupakan molekul oksigen dengan elektron tidak berpasangan (Reactive Oxygen Species atau ROS) banyak terdapat dalam pembuluh darah, maka molekul tersebut menjadi tidak stabil, liar dan radikal. Akibatnya, ROS akan berusaha mencari pasangannya dengan merebut pasangan elektron molekul lainnya, yang tanpa disadari secara perlahan-lahan akan menimbulkan “Plaque” akibat aktivitas Makrofag dan terakumulasi menutupi saluran pembuluh darah (Foam Cell). Apabila sifat oksidan itu semakin reaktif dan sulit untuk dikendalikan, maka untuk menyeimbangkan “keliaran” radikal bebas diperlukan sejumlah antioksidan, misalnya asam amino taurine.

Selain itu, hasil studi dari Satoh turut berhasil membuktikan bahwa taurine di samping sebagai antioksidan dari oksida rokok, juga berperan melindungi jantung dari efek negatif kelebihan ataupun kekurangan ion kalsium (Ca2+), dengan jalan mengatur kuantitas ion kalsium intraseluler. Dari kedua mekanisme Patofisiologik inilah mendasari pembuktian kemujaraban taurine sebagai Antioksidan yang dapat mencegah bahaya dari oksidan-oksidan rokok.

****

Dengan semakin luasnya wawasan dan berkembangnya cakrawala pengetahuan masyarakat, serta tidak lupa untuk tetap memandang berbagai permasalahan yang ada. Tidak salah lagi bahwa upaya mengurangi bahaya merokok pada dasarnya adalah kembali kepada kesadaran individu masing-masing untuk mengurangi merokok, bahkan berhenti merokok ataupun hingga menjauhi rokok sebagai merupakan cara yang paling tepat, efektif dan efisien.

Akhirnya, apabila hal tersebut tidak dapat dilakukan secara baik yang dilatarbelakangi berbagai hal, hendaknya barulah berpaling pada tindakan preventif yang alternatif, yaitu dengan mengkonsumsi pangan kaya asam amino taurine atau zat-zat antioksidan lainnya. Tujuannya tidak lain adalah untuk mencukupi kebutuhan antioksidan di dalam tubuh sehingga mampu mencegah efek buruk dari oksidan-oksidan (radikal bebas) yang muncul dari aktivitas merokok tersebut, sampai dengan perubahan statistik negatif rokok secara berangsur-angsur membaik tarafnya.

Bukankah manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang maha Esa yang berakal-budi? Bukankah manusia mampu bertindak yang terbaik bagi diri pribadi maupun untuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya? Dan, bukankah keadaan sehat, “gemuk” dan normal adalah dambaan setiap insan di muka bumi ini?.

****

“Oh Tuhan Yang Maha Suci, bimbinglah kesalahan menuju kebenaran, dari kegelapan menuju terangnya cahaya pengetahuan, lepaskanlah dari kematian menuju cerahnya kehidupan. Engkau-lah penuntun setiap insani, menolong dan melimpahkan anugerah kekuatan hingga kami bisa memuja-Mu”.

(Sebuah Doa “Mohon Bimbingan”, Hindu)

DAFTAR PUSTAKA

American Journal of Public Health. (2003), Amino Acid, Antioxidant And Enzymes, http://www.alpha.org/news/press/2002/truth.htm, (Akses: 29 Desember 2003).

American Journal of Public Health. (2003), Smoking Danger, http://www.alpha. org/news/press/2002/truth.htm, (Akses: 29 Desember 2003).

Badudu, J.S. (1997), Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

FKM Univ. Sumut. (2003), Taurin Melindungi Arteri dari Radikal Bebas Rokok, http://www.Antirokok. or.id /product_index.htm, (Akses: 30 Desember 2003).

Gatra. (2000), Sehari Tanpa Tembakau, http:/www.gatra.com/edisi_ cetak/tajuk_rencana/tembakau.htm, (Akses: 30 Desember 2003).

Gunung, I.K. (2003), Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah, Tugas Akhir, Fakultas Kedokteran Due-like Batch III Universitas Udayana, Denpasar.

Guyton & Hall. (1996), Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Kompas. (2003), Merokok Dan Kesehatan, http://www.antirokok.or.id/product_ index.htm, (Akses: 30 Desember 2003).

Kompas. (2003), Rokok Dan Impotensi, http://www.serojasatu.com/news/ Narkoba/RokokdanImpotensi.htm, (Akses: 30 Desember 2003).

Kompas. (2003), Senjata Baru untuk Melawan Rokok, http://www.kompas.com/ kompas-cetak/0305/31/iptek/337439.htm, (Akses: 30 Desember 2003).

Murray, R.W. (1996), Biokimia Kedokteran Harper, Edisi 24, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Republika. (2002), Resiko Kesehatan Bagi Perokok Pasif, http://www. Antirokok. or.id /product_ index.htm, (Akses: 30 Desember 2003).

About these ads

6 Responses

  1. emang g ada yang bisa dilakukan pada batangan rokoknya??mksudnya ada penambahan senyawa aktif spy efek nikotin dan tar pada rokok menjadi minim???saya mencoba membuat karya tulis tentang hal ini tapi masih belum punya referensi, bisa minta bantuannya???

    • Wauaaw kritis banget…salam kenal. Sama-sama kita belajar ya….
      Setau Saya belum ada senyawa aktif yg bisa mengurangi kadar/efek tar/nikotin dlm rokok.
      Malah sebaliknya banyak senyawa/bahan yg dpt meningkatkan hal itu.
      Utk referensi tentang rokok Saya rasa banyak, tetapi pilah-pilah yg sesuai
      Mungkin utk yg tertulis bisa diinternet didapatkan….tengok jurnal kedokteran
      Stop smoke/smoking….right now….

  2. ulasannya bagus, tapi kalo aktivitas antioksidan lainnya seperti vit C dalam mencegah bahaya merokok gimana ya? makasih…..

  3. Pada prinsipnya kerja anti oksidan lainnya hampir sama dgn asam amino taurine termasuk jg pd vitamin c

  4. apakah…..
    pernah ada yang survey perokok2 di daerah kalianget-dieng wonosobo?…
    hampir semua penduduknya perokok berat…
    mereka merokok tembakau pegunungan (melinting/lintingan) yang sangat tinggi kadar tar dan nikotinnya…

    tetapi……….
    rata2 dari mereka juga hidup berumur panjang…
    banyak yang sudah berumur diatas 70 th…
    dan masih melakukan kegiatan / aktifitas seperti biasa…..
    tanpa terlihat adanya gangguan pada aktifitas fisiknya…..

    kenapa……….
    mereka bisa berhasil mencapai umur panjang….
    umur yang termasuk tua untuk ukuran masyarakat indonesia….

    adakah yang pernah menyelidiki ‘fenomena’ ini?…
    mungkinkah ada hubungannya antara perokok, pegunungan, dan aktifitas sehari-hari?….
    kebanyakan dari penduduk disana adalah petani….

    • Selamat Malam Dede,
      Fenomena yg sungguh unik n patut diteliti lebih lanjut,
      Semoga ada yg berminat terutama rekan-rekan disana,
      Namun rokok tetap adalah salah satu risiko n sumber oksidan terburuk yg ada, hindarilah selagi engkau masih bisa menyadari
      Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,589 other followers

%d bloggers like this: