Ilmu Kedokteran Reproduksi ; Perspektif Filsafat Ilmu

“Cogitu Ergo Sum”

Je Pense, Donc Je Suis

I Am Thinking, Therefore I Exist

Aku Berpikir, Maka Karena Itu Aku Ada


(René Descartes ; 31 Maret 1596 – 11 Pebruari 1650)

Dewasa ini, keinginan untuk memiliki keturunan adalah suatu kondisi yang alami dimiliki oleh hampir seluruh pasangan manusia di dunia. Seiring itu, kesadaran dan perhatian akan arti penting aspek kesehatan reproduksi ikut meningkat. Bagi sekitar lima belas persen pasangan suami-istri, masalah kesuburan dari organ reproduksi telah menjadi masalah utama dalam hidup. Tidak mengherankan, kalau ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran terutama di bidang upaya bantuan reproduksi mulai berkembang dengan pesat (Permadi, 2008).

Hampir setiap orang pernah menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan seksualitas. Hal ini dikarenakan seksualitas menjadi bagian terpenting dan menarik perhatian dalam kehidupan pasangan manusia terutama bagi yang sudah memasuki jenjang berumah tangga. Di satu sisi sebenarnya dorongan seks adalah fungsi biologis yang normal dan alamiah selayaknya keinginan untuk makan-minum. Akan tetapi di sisi lain, aspek seksualitas memiliki kekuatan lebih yang bisa untuk mengubah hidup dan hingga menentukan perilaku seseorang.

Setiap insani memiliki perasaan, sikap dan keyakinan mengenai fungsi  seksualnya, tetapi pengalaman setiap orang bersifat unik karena mengalami proses pembelajaran yang spesifik dan melalui perspektif pribadi yang kuat. Sehingga tidaklah mudah untuk mengerti dan memahami aspek seksualitas dan reproduksi manusia, tanpa didahului mengenali sifat yang multidimensional. Pada dasarnya, seksualitas telah merangsang dan turut membimbing masing-masing individu dalam perjalanan hidupnya mulai dari bayi hingga menjadikannya sosok orang tua dengan sifat kedewasaan, menentukan orientasinya dan membangun peradaban manusia dari zaman purba sampai saat ini.

Pengetahuan akan seksualitas dan reproduksi yang benar akan dapat menuntun kita kearah perilaku yang rasional dan bertanggung jawab, dan dapat membantu membuat keputusan pribadi yang penting. Sayang, pembahasan dan pendidikan yang relevan mengenai reproduksi dan seksualitas sebagai ilmu masih relatif sedikit. Padahal fakta beberapa survei sederhana menyatakan rendahnya wawasan dan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap seluk-beluk informasi reproduksi dan seksualitas (Permadi, 2008).

Secara umum di Indonesia, kita mengenal bahwa kata reproduksi dan seksualitas adalah bermakna sama. Cukup lama kita mempertahankan persepsi yang kurang tepat itu, kemungkinan akibat paham budaya yang condong ketimuran sehingga masih memandang tabu membicarakan perihal reproduksi, apalagi hingga menyinggung kearah seksualitas, yang notabene  dianggap sensitif. Sebenarnya jika dikaji kembali lebih dalam, ternyata kata reproduksi dan seksualitas adalah berbeda, walaupun sangat berhubungan. Reproduksi lebih menelaah mengenai upaya untuk menghasilkan keturunan, sedangkan seksualitas dapat berarti jenis atau organ kelamin (Pangkahila, 2001).

Kita pun menjadi semakin miris dengan beredarnya berbagai mitos dan informasi yang sesat mengenai reproduksi maupun seksualitas. Banyak produk, layanan kesehatan dan obat-obatan yang muncul dan terkesan tidak bertanggung jawab hingga merugikan para klien. Coba saja tengok di beberapa media cetak maupun media elektronik, seperti radio maupun televisi. Hanya demi keuntungan finansial sesaat, dengan gampangnya membantu dan mewadahi info-info kesehatan (kedokteran) reproduksi dan seksualitas yang jelas-jelas salah dan tidak ilmiah, membodohi hingga mengorbankan masyarakat kita yang cenderung permisif ini (Subratha, 2007).

Sebaliknya masih sedikit perhatian pemerintah maupun institusi pendidikan yang terkait untuk membantu pengembangan ilmu kedokteran reproduksi termasuk seksologi. Salah satu alasan yang sering didengungkan bahwa ilmu  reproduksi dan seksualitas adalah milik orang dewasa dan tidak perlu diajarkan, karena spontan akan diketahui sendiri. Sudah pasti pernyataan itu salah besar, mengingat makin maraknya kasus infeksi menular seksual (IMS), termasuk epidemi Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS), gangguan fungsi seksual, disorientasi seksual, kehamilan tidak diinginkan, hubungan seksual pranikah yang bebas dan tidak bertanggung jawab, kriminalitas dari aborsi dan lainnya.

Maka perlu suatu tinjauan sederhana dari sudut pandang filsafat ilmu yang membahas ilmu kedokteran reproduksi sebagai sebuah pengetahuan ilmiah, dalam hal ini mewakili aspek reproduksi dan seksualitas manusia. Dengan harapan dapat membantu menjawab pentingnya ilmu kedokteran reproduksi bagi kehidupan manusia, berusaha mencari kebenaran mengenai apa hakekatnya, bagaimana prosesnya, manfaat secara etika dan nilai estetikanya, dan menelusuri jejak-jejak penalarannya dari suatu pemikiran filsafat, menjadi pengetahuan dan berakhir sebagai suatu ilmu (sains) yang ilmiah.

Ada Orang Yang Tahu Di Tahunya

Ada Orang Yang Tahu Di Tidaktahunya

Ada Orang Yang Tidak Tahu Di Tahunya

Ada Orang Yang Tidak Tahu Di Tidaktahunya

(Jujun Suriasumantri, 1982)

TINJAUAN FILSAFAT ILMU KEDOKTERAN REPRODUKSI

Salah satu ciri khas dari manusia adalah sifatnya yang selalu ingin tahu tentang berbagai hal. Rasa ingin tahu ini tidak terbatas yang ada pada dirinya, tetapi juga ingin tahu tentang lingkungan sekitarnya, bahkan sekarang ini rasa ingin tahu berkembang ke arah dunia luar. Rasa ingin tahu ini tidak dibatasi oleh peradaban dan muncul sejak manusia lahir di muka bumi ini. Semua umat manusia yang hidup di dunia mempunyai rasa ingin tahu walaupun variasi dan takaran keingintahuannya berbeda-beda. Orang tinggal di tempat peradaban yang masih terbelakang memiliki rasa ingin yang berbeda dibandingkan dengan orang yang tinggal di tempat maju (Soeparto, 2000).

Rasa ingin tahu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam sekitar terkadang bersifat sederhana dan juga kompleks. Rasa ingin tahu yang bersifat sederhana didasari dengan rasa ingin tahu tentang apa (Ontologis), sedangkan rasa ingin tahu yang bersifat kompleks meliputi kelanjutan pemikiran tentang bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi dan mengapa peristiwa itu terjadi (Epistemologis), serta manfaat apa yang didapat dari mempelajari peristiwa tersebut (Aksiologis) (Suriasumantri, 1982).

Ketiga landasan utama filsafat ilmu di atas, yaitu Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis merupakan ciri spesifik dalam penyusunan pengetahuan yang menjelaskan keilmiahan ilmu tersebut. Ketiga landasan ini saling terkait satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Berbagai usaha spekulatif yang bersistem, mendasar dan menyeluruh dilaksanakan untuk  mencapai atau memecahkan peristiwa yang terjadi di alam dan di lingkungan sekitar. Bila usaha tersebut berhasil dicapai, maka diperoleh apa yang kita katakan sebagai ilmu dan pengetahuan (Suriasumantri, 1982).

Sama halnya ketika meninjau Ilmu Kedokteran Reproduksi sebagai sebuah ilmu yang ilmiah dan membedakannya dengan pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan melalui cara lain. Beberapa akademisi dan masyarakat awam di Indonesia memang masih kurang familiar terhadap eksistensi ilmu kedokteran reproduksi terutama karena kajian dan wacana akademis yang sangat terbatas dan kurang terintegrasi. Namun sebagai suatu ilmu yang telah diakui secara luas, ilmu kedokteran reproduksi berkembang seiring kompleksitas permasalahan yang ada dengan ketertarikan-ketertarikan ilmiah yang mulai bergairah dan perlahan menunjukkan eksistensi ilmu ini ke arah kemapanan.

Secara garis besar, pengertian reproduksi lebih berkaitan dengan aktifitas manusia untuk mendapatkan keturunan, tetapi untuk itu tentu saja diperlukan organ kelamin dan dorongan seksual juga. Sedangkan seksualitas atau seks berarti jenis kelamin yang merupakan dimensi lain dari reproduksi manusia yang jauh lebih luas karena meliputi semua aspek nilai, sikap, orientasi dan perilaku yang bersifat pribadi dan tidaklah sama dengan kemampuan seseorang untuk sekedar memberikan reaksi erotik (Pangkahila, 2001).

Perkembangan Ilmu Kedokteran sendiri sebagai induk Ilmu Kedokteran Reproduksi tidak lepas dari sosok Hippocrates yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran Modern. Hippocrates menjadi sangat berjasa karena “Sumpah”-nya yang sampai saat ini menjadi dasar Sumpah Kedokteran di seluruh dunia. Hippocrates adalah gambaran sosok filsuf yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi usaha kemanusiaan, berkelana menuntut ilmu sambil melakukan pengabdian kepada sesamanya di bidang pengobatan.

Karya-karya ilmiah Hippocrates dalam bidang kesehatan masih menjadi rujukan saat ini. Hippocrates mengubah paradigma ilmu pengobatan yang dahulu berbasis supranatural (tradisional) menjadi ilmu yang berbasis ilmiah (evidence based medicine). Hippocrates berhasil menggabungkan ilmu filsafat dengan ilmu kedokteran, dan Hippocrates pula yang mengatakan bahwa ilmu kedokteran adalah suatu seni (Wikipedia, 2007).

(Hippocrates of Cos ; 460 SM – 377 SM)

Universitas Udayana sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, sudah sejak tahun 2001 membuka program studi pasca sarjana magister di bidang ilmu biomedik kekhususan ilmu kedokteran reproduksi. Tujuannya sebagai wadah pendidikan formal untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mampu memaknai dan memahami aspek reproduksi dan seksualitas manusia secara ilmiah. Hal ini didasari bahwa kesehatan reproduksi manusia merupakan langkah awal dalam upaya mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas hidup sumber daya manusia (Subratha, 2007).

Sebagai suatu bidang studi yang relatif baru, selanjutnya akan disajikan penalaran Ilmu Kedokteran Reproduksi sebagai sebuah ilmu. Filsafat Ilmu dalam hal ini dianggap memiliki tanggung jawab dalam mempersatukan berbagai kajian ilmu untuk dirumuskan secara padu dan mengakar menuju ilmu olahraga dalam tiga dimensi ilmiahnya (Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis) yang kokoh dan sejajar dengan ilmu-ilmu lain (Nala, 2009).

To be is to be perceived

Esse Est Percipi

Suatu Itu Ada Adalah Disebabkan Persepsi


(George Berkeley, 12 Maret 1685–14 Januari 1753)

Ontologis Ilmu Kedokteran Reproduksi

Kajian ontologis spesifik menjawab hakekat suatu ilmu dan membahas tentang “apa” itu yang ingin diketahui. Ontologis berperan dalam perbincangan mengenai pengembangan ilmu, asumsi dasar ilmu dan konsekuensi penerapan ilmu. Ontologis merupakan sarana ilmiah untuk menemukan jalan penanganan masalah secara ilmiah. Ontologis berperan dalam proses konsistensi ekstensif dan intensif dalam pengembangan ilmu (Van Peursen, 1985).

Ontologis merupakan salah satu obyek lapangan penelitian kefilsafatan yang paling kuno. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu, ciri esensial obyek yang berlaku umum. Ontologis ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh indera manusia. Jadi kajian ontologis masih dalam jangkauan pengalaman manusia atau obyeknya bersifat empiris dapat berupa material, seperti ide-ide, nilai, tumbuhan, binatang, batu-batuan dan manusia itu sendiri (Supriyanto, 2003).

Ilmu Kedokteran Reproduksi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari aspek reproduksi dan seksualitas manusia ditinjau dari sisi kedokteran. Ilmu ini menjadikan organ reproduksi dan seksual manusia sebagai obyek utama dalam pembelajarannya. Secara empiris, berbagai gejala yang dapat diamati indera, kondisi klinis yang normal maupun abnormal (penyakit) dan pengalaman pada fungsi organ reproduksi dan seksual manusia, semuanya akan ditelaah seutuhnya dalam ilmu kedokteran reproduksim, baik yang terlihat jelas (organ kelamin), berukuran mikros (sel sperma dan telur) dan psikososial (gangguan psikis), dan bukan mengkaji benda jasmani saja.

Bagaimana tatanan dan struktur dari obyek yang dipelajari ilmu kedokteran reproduksi sebagai doktrin berpendekatan holistik, hendaknya terlebih dahulu memandang aspek reproduksi manusia sebagai suatu sistem keseluruhan yang membentuk manusia selaku obyek sekaligus juga subyek. Tidak lupa untuk tetap memperhatikan keadaan lingkungan sebagai variabel bebas yang secara tidak langsung turut serta mempengaruhi kondisi kejiwaan manusia sebagai obyek. (Pangkahila, 2001)

Wujud hakiki dari obyek yang ditelaah ilmu kedokteran reproduksi adalah berbagai kondisi pada organ reproduksi dan seksual manusia terutama permasalahan-permasalahan yang dapat diamati dan dirasakan indera, dan penyakit ataupun gangguan yang mempengaruhi status kesehatan umum. Abstraksi wujud dari obyek tersebut haruslah dapat dinilai, apakah dalam keadaan normal atau sakit, dan bagaimana pengaruhnya pada produktifitas individu manusia secara keseluruhan. Gangguan apa yang terjadi pada sistem reproduksi maupun seksual. Solusi kongkrit apa saja, guna menanggulangi kemungkinan turunnya produktifitas manusia yang bersangkutan.

Sedangkan hubungan wujud obyek telaah ilmu kedokteran reproduksi dengan daya tangkap manusia adalah bersifat sebab-akibat dan linear. Suatu kondisi bisa memperburuk fungsi organ reproduksi dan seksual, seperti terjadinya proses penuaan, perilaku yang beresiko, munculnya keganasan sel, kriminalitas biologi, ketimpangan gender, buruknya higienis pribadi dan rendahnya sanitasi lingkungan dan lainnya. Sebaliknya dengan menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat, menghindari penyebaran infeksi, menjaga kebugaran tubuh, memperbaiki higienis dan sanitasi, serta menghormati hak asasi bisa menjadi pilihan ampuh untuk kondisi kesehatan yang lebih baik.

Epistemologis Ilmu Kedokteran Reproduksi

Telaah epistemologis merupakan cabang dari filsafat ilmu yang berurusan dengan hakikat, teori dan ruang lingkup “bagaimana” proses menjadi ilmu. Meliputi pengandaian-pengandaian dan dasar-dasar serta pertanggungjawaban atas pertanyaan mengenai ilmu pengetahuan yang dimiliki. Epistemologis membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan metode keilmiahan dan sistematika isi dari berbagai ilmu termasuk ilmu kedokteran reproduksi.

Metode keilmuan merupakan suatu prosedur wajib yang mencakup berbagai tindakan, pemikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang baru atau sebaliknya mengembangkan wawasan yang telah ada. Sedangkan sistematisasi isi ilmu dalam hal ini berkaitan dengan batang tubuh dari ilmu pengetahuan, letak peta dasar, pengembangan ilmu pokok dan cabang ilmu yang akan dibahas di sini (Purnomo, 2007).

Salah satu ciri yang patut mendapat perhatian dalam epistemologis dari perkembangan ilmu pada masa modern adalah munculnya pandangan baru mengenai ilmu pengetahuan. Pandangan itu merupakan kritik terhadap pandangan Aristoteles, yaitu bahwa ilmu pengetahuan yang sempurna tidak boleh mencari keuntungan, namun haruslah bersikap kontemplatif. Diganti dengan pandangan bahwa ilmu pengetahuan justru harus mencari untung yang artinya dipakai untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi ini (Bakhtiar, 2005).

Guna menjawab bagaimana proses umum menimba ilmu pengetahuan khususnya ilmu kedokteran reproduksi, maka selayaknya didahului dengan  pemikiran sederhana yang bersumber dari pengalaman empiris manusia. Berbagai fenomena yang terjadi, faktual di seputar organ reproduksi dan seksual, seperti gangguan fungsi seksual, sikap pro-kontra terhadap kontrasepsi, epidemi IMS dan lainnya. Kemudian akan dirangkum, dibuatkan suatu karya penelitian dengan metode tertentu yang rasional untuk mencari dan menjawab teori secara ilmiah, apakah ilmu tersebut dapat diterima atau tidak.

Sebagaimana pengetahuan lainnya bahwa terbentuknya ilmu kedokteran reproduksi adalah hasil dari penggabungan beberapa ilmu dasar dan kekhususan. Ilmu-ilmu tersebut kemudian menjadi dasar kurikulum pendidikan ilmu kedokteran reproduksi yang dituangkan dalam silabus mata kuliah dan dialokasikan sesuai prioritas dalam bentuk SKS (satuan kredit semester). Sebagai contoh, dari kurikulum mata kuliah yang selama ini dijalankan oleh program pendidikan magister ilmu biomedik kekhususan ilmu kedokteran reproduksi Universitas Udayana sebagai berikut (Subratha, 2007) :

Ilmu Kedokteran Dasar dan Keilmiahan :

  1. Filsafat Ilmu : Ilmu yang mengkaji bagaimana ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan bagaimana cara untuk memperolehnya.
  2. Metode dan Etika Penelitian : Ilmu yang membahas teknis dan etika dalam melakukan suatu riset yang ilmiah.
  3. Statistik Kedokteran : Ilmu yang mempelajari aplikasi statistik dalam dunia kedokteran terutama dipergunakan dalam analisis penelitian.
  4. Biologi Molekuler : Cabang dari ilmu biologi yang mengkaji kehidupan dalam skala sel.
  5. Genetika Kedokteran :  Ilmu yang memperlajari aspek pewarisan dan variasi sifat pada organisme.

Ilmu Kekhususan Kedokteran Reproduksi :

  1. Seksologi Kedokteran : Ilmu kedokteran yang mempelajari perilaku dan aktifitas seksual manusia.
  2. Andrologi : Ilmu yang spesifik mengkaji aspek reproduksi dan seksualitas pada laki-laki.
  3. Obstetri dan Ginekologi : Ilmu yang mengkaji aspek reproduksi dan seksualitas pada wanita.
  4. Patofisiologi Reproduksi : Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari kondisi fisiologis dan patologis dari organ reproduksi.
  5. Embriologi Kedokteran : Ilmu yang mempelajari perkembangan embrio dari fertilisasi hingga menjadi bayi.
  6. Spematologi : Ilmu kedokteran yang mempelajari sperma dan atau cairan sperma disertai keterampilan laboratorium klinis.
  7. Endokrinologi : Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari sistem endokrin atau hormonal.
  8. Infertilitas dan Kontrasepsi : Ilmu yang spesifik mengkaji mengenai aspek kesuburan dan kontrasepsi pada pria dan wanita.
  9. Infeksi Menular Seksual dan HIV/AIDS : Ilmu yang spesifik mengkaji mengenai berbagai IMS termasuk HIV/AIDS.

Aksiologis Ilmu Kedokteran Reproduksi

Dasar aksiologis berarti nilai yang berkaitan dengan “kegunaan” dari suatu ilmu pengetahuan yang telah diperoleh, seberapa besar sumbangan ilmu tersebut bagi kebutuhan umat manusia. Merupakan fase yang paling penting bagi manusia karena dengan adanya ilmu, maka segala keperluan dan kebutuhan manusia menjadi terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah (Purnomo, 2007).

Aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang dipelajarinya. Bila persoalan value free dan value bound ilmu yang mendominasi fokus perhatian aksiologis pada umumnya, maka dalam hal pengembangan ilmu yang relatif baru seperti ilmu kedokteran reproduksi ini, dimensi aksiologis akan diperluas lagi sehingga secara inheren mencakup dimensi nilai kehidupan manusia, seperti etika, estetika, religius (sisi dalam) dan juga interelasi ilmu dengan aspek-aspek kehidupan manusia dalam sosialitasnya (sisi luar). Kedua sisi merupakan aspek penting dari permasalahan transfer ilmu pengetahuan (Bakhtiar, 2005).

Berdasarkan aksiologis, terlihat jelas bahwa permasalahan utama dari ilmu  berkaitan dengan nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Etika mengandung dua arti, yaitu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan antara hal, perbuatan atau manusia lainnya. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena disekelilingnya.

Berkaitan dengan ilmu kedokteran reproduksi sebagai sebuah ilmu, maka tentu perlu dikaji mengenai aspek aksiologisnya. Sebagai cabang ilmu kedokteran yang baru, maka ilmu kedokteran reproduksi memiliki banyak manfaat yang positif bagi kehidupan manusia baik nilai etika maupun estetika (Subratha, 2007). Adapun beberapa manfaat yang sekiranya bisa didapat dari mengamalkan ilmu kedokteran reproduksi, yaitu :

  1. Memiliki kemampuan guna mengidentifikasi dan menganalisis berbagai masalah di lingkup kesehatan reproduksi dan seksual yang menghambat terwujudnya keluarga atau individu manusia yang bahagia dan sejahtera.
  2. Memiliki kemampuan untuk memecahkan dan menangani berbagai masalah kesehatan reproduksi dan seksual sehingga dapat membantu masyarakat dalam mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera.
  3. Memiliki kemampuan untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual kepada masyarakat sehingga terhindar dari perilaku yang merugikan, dan selanjutnya mampu membentuk keluarga atau individu manusia yang bahagia dan sejahtera.
  4. Mendapatkan keterampilan untuk melakukan penelitian demi memperoleh dan atau memperbaiki teori, cara, teknik atau bahan yang bermanfaat untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi dan seksual.

Terkait dengan kaidah dan pilihan moral dalam ilmu kedokteran reproduksi, maka ilmu tersebut juga mengandung esensi etika yang harus diiringi dengan tanggung jawab sosial sebagai seorang dokter, paramedis maupun konselor. Wajib pula dibaluti prosedur atau metode ilmiah dengan pola pikir yang rasional dan pendekatan secara deduktif atau induktif. Berbagai keterampilan dengan status gelar yang didapat setelah menyelesaikan pendidikan ilmu kedokteran reproduksi akan menjadi bekal untuk mendapatkan penghasilan.

Hakikat nilai estetika juga terkandung dalam berbagai praktek ilmu di lapangan, proses penelitian, keterampilan klinis dan laboratorium sederhana yang berhubungan. Kesemuanya akan bermuara di akhir, menghasilkan manfaat yang utama guna membentuk paradigma baru dalam dunia kesehatan reproduksi dan seksual yang mendukung tercapainya individu manusia atau keluarga yang bahagia dan sejahtera.

SIMPULAN

Dari penalaran-penalaran sederhana diatas, maka dapat ditarik simpulan singkat bahwa ilmu kedokteran reproduksi sudah layak dinyatakan sebagai ilmu pengetahuan. Sebagai salah satu cabang ilmu kedokteran yang mempelajari fungsi dan permasalahan organ reproduksi dan seksual, dan mampu menjawab secara spesifik kajian hakikat pengetahuan yang ilmiah dari sudut pandang filsafat ilmu, yaitu landasan Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis.

Ilmu kedokteran reproduksi juga memiliki ciri-ciri tertentu, teknis penyelesaian masalah yang khas dan prinsip-prinsip rasional yang dapat diterima oleh logika manusia selaku obyek dan subyek pengetahuan secara keseluruhan. Sehingga sangatlah layak kalau institusi pendidikan sekiranya mulai melirik ilmu kedokteran reproduksi sebagai disiplin ilmu baru yang patut untuk dikembangkan, memiliki masa depan yang cerah dan bisa diaplikasikan manfaatnya bagi khasanah hidup manusia.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anonim. 2008. Buku Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Tesis, Dan Disertasi. Program Pascasarjana Unud. Denpasar.
  2. Lowe L. 2006. Seri Family Doctor, The British Medical Association ; Memahami Seks. PT. Gaya Favorit Press. Jakarta.
  3. Nala I.G.N. 2009. Kumpulan Materi Kuliah Filsafat Ilmu, Program Pascasarjana Magister S2 Ilmu Biomedik Semester I. Program Pascasarjana Magister S2 Ilmu Biomedik Unud. Denpasar.
  4. Pangkahila W.I., Pangkahila A.J., Adimoelja A. Agustus 2008. Kumpulan Materi Pelatihan Intensif Seksologi Tingkat Basic, Angkatan XII. Bagian Andrologi Dan Seksologi FK Unud. Denpasar.
  5. Permadi W., Djuwantono T., Herlianto H., Halim D. Juni 2008. Hanya 7 Hari ; Memahami Infertilitas.  PT. Refika Aditama. Bandung.
  6. Soeparto P., Putra S.T., Harjanto J.M. 7 Nopember 2000. Filsafat Ilmu Kedokteran. Gramik FK Unair. Surabaya.
  7. Subratha N.. 2007. Silabus Kurikulum Program Pascasarjana Magister Ilmu Kedokteran Reproduksi. Program Pascasarjana Magister Ilmu Kedokteran Reproduksi Unud. Denpasar.
  8. Subratha N.. 2007. Panduan Program Pascasarjana Magister Ilmu Kedokteran Reproduksi. Program Pascasarjana Magister Ilmu Kedokteran Reproduksi Unud. Denpasar.
  9. Suriasumantri J.S. 1882. Filsafat Ilmu ; Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
  10. Pictures taken from http://www.wikipedia.com.

********

*Informasi Mengenai Program Pascasarjana S2 Ilmu Biomedik Kekhususan Ilmu Kedokteran Reproduksi Universitas Udayana Dapat Menghubungi ; email psasfk_unud@yahoo.com / telepon 0361-7425201.

About these ads

9 Responses

  1. Penjelasannya sangat baik. Ini gabungan dari dua ilmu; filsafat dan kedokteran. sangat jelas dan saya beroleh banyak pengetahuan. semoga tulisan ini bermanfaat bagi banyak orang.

    Trima kasih

  2. Menarik … terima kasih infonya …. salam super :D

  3. Sy mau ty ttg rincian biaya kedokteran reproduksi.jadwalnya.apa bs belajar jarak jauh?kl mau double degree dgn biomed antiaging bgm rincian biayanya?jadwalnya?apa bs belajar jarak jauh?sy mau minta tlg apa sy bs dicopykan textbooks ttg antiaging medicine n kedokteran reproduksi?thanks.no.hp sy:087771028847.

    • informasi lebih lanjut untuk program magister s2 kedokteran/biomedik di universitas udayana bisa menghubungi langsung sekretariat di 0361-7425201

  4. mohon informasi adakah kursus seksologi?..mohon dihubungi lewat email drpritamuliarini@yahoo.com

  5. Mohon informasi,tentang jadwal kursus seksologi….mohon dihubungi lewat email ibr_nug@yahoo.co.id

    • Silakan menghubungi sekretariat bagian andrologi n seksologi fakultas kedokteran universitas udayana di 0361-7425201 untuk info pendidikan seksologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,599 other followers

%d bloggers like this: