Post-Stroke Psychosexual Disorder ;
A Review
(Free Paper Of Pfizer Award For Sexology - 2011)
I Gusti Ngurah Pramesemara
*Staff Andrology & Seksologi Department Medical Faculty of Udayana University
-September 2011-
Abstrak
Stroke merupakan penyakit penyebab kematian kedua terbanyak di dunia dan penyebab utama kecacatan yang menahun. Kejadian stroke seringkali menimbulkan problem kronis pasca serangan pada pasiennya, namun hingga kini penanganan belum memuaskan. Tidak banyak kepustakaan yang ditemukan membahas tentang aspek psikoseksual pasca stroke disertai masih banyak mitos yang kontroversi. Padahal kebutuhan seksual merupakan hal yang esensi dan sangat sensitif dalam kehidupan manusia. Umumnya permasalahan lanjutan stroke berupa defek fungsi neurologis yang nyata akan lebih mudah terdiagnosis dan diobati. Sebaliknya manajemen penanganan belum memuaskan bila yang muncul pasca stroke adalah defek fungsi neurologis yang tidak nyata terutama gangguan psikoseksual. Penelusuran pustaka ditemukan empat gangguan psikoseksual yang umum terjadi pada pasien laki-laki maupun perempuan, meliputi penurunan libido, penurunan frekuensi koitus, hambatan mencapai orgasme, dan kesulitan teknis dalam melakukan hubungan seksual. Gangguan psikoseksual pasca stroke terjadi karena defek organik dan psikogenik, sehingga diperlukan penanganan holistik dan berkesinambungan baik berupa pengobatan medis, terapi seksual maupun cukup dengan konseling dan perbaikan komunikasi seksual. Jangan pernah mencoba praktek pengobatan seksual alternatif yang tidak rasional dan tidak ilmiah demi upaya semu untuk mengatasi gangguan psikoseksual pasca stroke.
Kata Kunci ; Pasca Stroke, Gangguan Psikoseksual
Abstract
Stroke is the second leading disease cause of death in the world also the leading cause of chronic disability. The incidence of stroke often causes chronic problems after an attack on patients, but until now the treatment has not been satisfactory. Not much literature was found that discussing about the psychosexual aspects of post-stroke patients also with still many controversy myths. Though sexual needs is essensial and very sensitive in human life. Generally, the real defects in neurological function of stroke’s cronic problems will be more easily diagnosed and treated. Instead management has not been satisfactory when handling the not real defects of post-stroke in neurological function, especially on psychosexual disorders. Literature search found four psychosexual disorders are common in patients both men and women, including decreased libido, decreased frequency of coitus, the barriers to achieve orgasm, and technical difficulties in sexual intercourse. Psychosexual disorders after stroke occurs due to defects of organic and psychogenic, necessitating the handling of both holistic and sustainable form of medical treatment, sexual therapy or simply by counseling and improving sexual communication. Never try to attempt alternative sexual medicine practice who an irrational and unscientific, to solve psychosexual disorders post-stroke.
Key Words : Psychosexual Disorder, Post-Stroke
Pendahuluan
Penyakit Stroke atau Cerebro-Vaskular Accident (CVA) secara global merupakan salah satu permasalahan utama dalam bidang kesehatan. Stroke adalah penyakit penyebab kematian kedua terbanyak di dunia setelah kematian akibat penyakit jantung dan sebagai penyebab utama kecacatan yang menahun. World Health Organization (WHO) tahun 2006 menyebutkan bahwa stroke diperkirakan akan menjadi penyebab kematian utama tahun 2010, sedangkan menurut American Hearth Association (AHO) tahun 1999 hampir 30,3% penyebab kematian di dunia diakibatkan stroke (AHO, 2005).
Walaupun angka kematian stroke saat ini telah mampu dikurangi hingga 18,5% berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran terutama dalam penelitian dan penatalaksanaan penyakit neurovaskular. Namun jumlah pasien stroke cenderung tetap bertambah akibat perubahan pola hidup masyarakat yang tidak sehat dan penuh dengan risiko (AHO, 2005).Perlu diperhatikan bahwa sekitar 40% pasien yang pernah mengalami stroke mungkin akan mengalami episode serangan stroke berulang dalam kurun waktu lima tahun (IDI, 2006).
Jumlah pasien stroke yang terus meningkat setiap tahunnya dan sekarang tidak hanya menyerang penduduk usia tua, tetapi mulai ditemukan kasus-kasus pada usia muda dan produktif. Penelitian terhadap 196 pasien stroke didapatkan sebanyak 60,6% pasien stroke ternyata masih berusia 31-40 tahun. Bahkan terdapat kasus stroke pada pasien usia 21 tahun yang kronis (Suyono, 2006).
Penanganan pasien pasca stroke hingga kini belum memuaskan, sehingga timbul gangguan-gangguan yang menjadi problem lanjutan. Namun tidak banyak kepustakaan yang ditemukan terutama membahas secara mendalam aspek psikoseksual pasca stroke. Hasil penelitian tentang fungsi seksual pasca stroke pun masih kontroversi dibarengi banyak mitos yang menyesatkan hingga pasien ragu-ragu melanjutkan aktifitas seksualnya. Padahal kebutuhan seksual merupakan hal yang esensi dan sangat sensitif dalam kehidupan manusia hingga menarik untuk dibahas lebih lanjut.
Stroke Dan Permasalahan Lanjutannya
Stroke adalah defisit neurologis fokal akibat gangguan fungsi otak akut disebabkan oleh adanya gangguan peredaran darah otak yang terjadi kurang dari 24 jam, cenderung berprognosis buruk hingga dapat berakhir dengan kematian (WHO, 2006).
Gangguan peredaran darah otak terjadi karena adanya gangguan daya regulasi intrinsik pembuluh darah otak, misalnya peningkatan tekanan darah yang mendadak dan sangat tinggi hingga melampaui batas kemampuan autoregulasi dari arteri serebral, yaitu jika tekanan darah diastolik lebih dari 125-130 mmHg dan sistolik lebih dari 200 mmHg.Berbagai keluhan neurologis muncul akibat terganggunya keseimbangan komponen normal dari Doktrin Monroe-Kellie (jumlah volume otak, likuor serebrospinalis, dan darah dalam ruang tengkorak adalah selalu tetap) (Nuartha, 1994).
Temuan hipertensi baik sistolik maupun diastolik merupakan faktor risiko terpenting terjadinya penyakit serebrovaskuler termasuk kasus stroke pada semua usia. Hipertensi juga menimbulkan perubahan patologis pada pembuluh pembuluh darah besar dan pembuluh darah kecil pada intrakranial.Selain perdarahan intraserebral, stroke bisa terjadi sebagai akibat perdarahan subarakhnoid yang insidennya umum pada usia lebih muda. Perdarahan subarakhnoid primer paling sering dihubungkan dengan pecahnya dari aneurisma (50%), malformasi serebrovaskuler ataupun angioma khususnya pada malformasi arterio-venos (5%) (Nuartha, 1994).
Klasifikasi stroke dibagi menjadi dua tipe berdasarkan patofisiologinya, yakni stroke iskemik (non-hemoragik) dan hemoragik (perdarahan). Guna ketepatan diagnosis suatu kejadian stroke, maka dibutuhkan kualifikasi dokter dengan kemampuan anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta penggunaan pemeriksaan penunjang yang baik. Umumnya penatalaksanaan yang diberikan berupa tindakan kegawatdaruratan untuk mengamankan nyawa pasien, pengobatan hingga pembedahan, serta tidak lupa manajemen kausal stroke dan perilaku berisiko lainnya (Misbach, 1998).
Umumnya permasalahan lanjutan stroke berupa defek fungsi neurologis yang nyata, seperti defisit motorik, sensorik, vegetatif, dan paresis pada nervus kranialis. Acapkali juga menimbulkan gejala sisa yang bersifat abstrak, seperti gangguan fungsi kortikal luhur, gangguan psikologis hingga gangguan fungsi seksual. Apabila yang muncul adalah gangguan neurologis yang nyata, maka secara klinis tidaklah sukar untuk mendiagnosis dan mengobatinya. Sebaliknya penyulit akan timbul pada keluhan yang tidak nyata, salah satu yang sering ditemui pada pasien pasca stroke adalah gangguan psikoseksual yang hingga kini penatalaksanaannya belum memuaskan (Adnyana, 1986).
Gangguan Psikoseksual Pasca Stroke
Telah dinyatakan adanya penurunan aspek psikoseksual pada pasien pasca stroke dan kondisi tersebut tidak tergantung dari letak lesi (Supit, 2004). Dilaporkan kasus adanya penurunan perilaku seksual dan semua komponen fungsi seksual (frekuensi dan durasi koitus, libido, kemampuan ereksi, ejakulasi, dan orgasme) secara bermakna pada 39 pasien stroke. Alasan yang diberikan pasien tentang penurunan fungsi seksual yang dialami adalah dikarenakan 74,36% merasa rendah diri dan tidak berguna lagi secara seksual, 51,38% takut penyakitnya kambuh ketika beraktifitas seksual, dan 15,38 mengalami kesulitan untuk berhubungan seksual (Adnyana, 1994).
Menurut Korpelainen pada tahun 1999 bahwa sebagian besar pasien stroke (57%) beserta pasangannya (65%) mengalami gangguan pada semua fungsi seksual baik pasien laki-laki dan perempuan (libido, frekuensi koitus, kemampuan ereksi dan orgasme, lubrikasi vagina, dan kepuasan seksual). Keadaan disfungsi seksual dan ketidakpuasan dalam kehidupan seksual lebih banyak dikeluhkan oleh pasangan.Disampaikan pula perihal pengaruh kuat aspek psikologis dan faktor sosial terhadap fungsi seksual dan kualitas hidup pasien pasca serangan stroke (Misbach, 1998).
Penelusuran dari berbagai pustaka ditemukan empat bentuk gangguan psikoseksual yang umum terjadi pada pasien stroke laki-laki maupun perempuan : (1) penurunan libido hingga hilangnya dorongan dan segala potensi untuk melakukan aktifitas seksual, (2) penurunan frekuensi koitus yang sering dikaitkan dengan letak lesi dan faktor psikogenik berupa ketakutan mengalami serangan stroke yang berulang, (3) hambatan orgasme yang bisa diakibatkan kelainan organik ataupun psikogenik, dan (4) kesulitan yang terkait teknis (cara dan posisi) dalam melakukan hubungan seksual karena seringkali pasien stroke mengalami lemah separuh tubuh (hemiparesis).
Penanganan Gangguan Psikoseksual Pasca Stroke
Problem fungsi psikoseksual pasca stroke seringkali terjadi karena defek organik dan psikogenik, maka diperlukan prinsip manajemen penanganan yang bersifat holistik dan berkesinambungan. Umumnya pasien stroke berusia lanjut, sehingga tampak masalah psikoseksual yang ada tidak mungkin tertanggulangi. Jikalau situasi tersebut dibiarkan, maka muncul berbagai komplikasi yang dapat mempengaruhi kehidupannya, pasangan, dan keluarga (Misbach, 1998).
Problem seksual pasien stroke sebagian besar ditemukan sangat kompleks yang kemudian mengakibatkan pendekatan dan manajemennya menjadi sangat individual. Salah sekali bila seorang pasien stroke dilarang melakukan hubungan seksual karena bisa menyebabkan stroke berulang, hal ini adalah contoh mitos yang menyesatkan. Malah penelitian di Jerman menyatakan terapi seksual justru mempercepat penyembuhan kelumpuhan karena memperkuat rasa percaya diri. Pasien stroke yang mengalami depresi dan kecacatan, justru terapi seksual mampu menyembuhkan karena memberi kebahagiaan, relaksasi, kepuasan, dan keintiman (AHO, 2005).
Hampir tidak ada perbedaan antara penanganan disfungsi seksual pada kasus umum dengan pasien stroke baik laki-laki maupun perempuan. Acapkali sebagian besar pasien yang mengalami disfungsi seksual cukup merasakan perbaikan kesehatan seksual dengan menerima konseling dari seksolog atau psikiater. Sisanya membutuhkan sex therapy sebagai metode pengobatan alternatif yang memadukan ilmu biomedik dan sisi psikososial berupa hipnosis, senam seksual, specific sexual desensitization, sexual stimulation therapy, dan masturbation therapy (Cole, 2006).
Namun tetap diperlukan pendekatan medis dengan pemberian terapi hormonal, obat minum, suntikan, penggunaan alat bantu seksual, dan opsi terakhir melalui intervensi operatif. Terapi stimulasi untuk membangkitkan respon seksual bisa secara hormonal, aphrodisiak, dan stimulan sistem saraf pusat. Obat yang diberikan dapat berupa terapi substitusi, misalnya memberikan preparat androgen pada kasus defisiensi hormon. Terapi supresi guna menekan penyebab disfungsi seksual, misal Bromocriptine pada klien Hyperprolactinemia, dan Short-Acting Serotonin Re-Uptake Inhibitors (SSRI) pada keadaan depresi (Pangkahila, 2006).
Preparat vasodilator dan smooth muscle relaxant merupakan jenis terapi yang paling banyak pengembangannya dekade ini dan mampu dipakai dengan banyak cara dari dioleskan, oral, intraurethra, dan intracavernosa. Beberapa pilihan obat esensial yang lazim diberikan guna menyembuhkan disfungsi ereksi, seperti Sildenafil Sitrat (Viagra™) golongan PDE-5i (phosphodietilesterase-5 Inhibitor), Prostaglandin E1, Phentolamine, dan Apomorphine. Sebelumnya perlu untuk diperhatikan mengenai kontraindikasi dalam pemberian pilihan pengobatan di atas.
Problem psikoseksual akibat kelainan organik dapat diobati dengan penggunaan alat-alat bantu seksual, seperti erectile vacuum device. Tindakan operatif pun sudah mulai ditinggalkan akibat komplikasi yang ditimbulkan. Teknik medis itu dilakukan dengan cara memasang prosthesis semirigid ataupun rigid dalam penis yang dapat dikembang-kempiskan agar mampu kembali ereksi (Pangkahila, 2006).
Mencegah agar tidak sampai mengalami disfungsi seksual tentu lebih baik daripada harus mengalaminya dan lalu terlambat mendapat pengobatan. Selalulah berupaya untuk menjalankan gaya hidup sehat, melakukan pengecekan status kesehatan secara reguler, dan menghindari segala perilaku berisiko. Melalui komunikasi seksual yang sehat juga mampu mengeliminasi kemungkinan munculnya disfungsi seksual. Penyebab terbanyak adalah stress psikis sehingga penanganan awal disfungsi seksual adalah mengelola rasa cemas dan stressor secara komprehensif dengan membina komunikasi seksual yang baik bersama pasangannya (Masters-Johnson, 1979).
Hindari mencoba praktek-praktek seksual yang tidak rasional, dan tidak ilmiah hanya untuk upaya semu meningkatkan potensi seksual, seperti mengkonsumsi ramuan, obat kuat, jamu, dan memakai asesoris seksual ilegal. Harap waspada bahwa selalu terdapat risiko dari tindakan instan dan tidak alami, misalnya penyuntikan silikon demi alasan memperbesar penis ataupun memaksimalkan ereksi. Padahal metode tersebut justru mengakibatkan berbagai permasalahan yang lebih serius hingga kerusakan jaringan penis. Oleh karena itu, berkonsultasilah dahulu pada pihak yang berkompeten baik dokter atau seksolog, jika merasakan ada masalah seksual yang dilatarbelakangi penyakit apapun (Pangkahila, 2006).
Simpulan
Pembahasan mengenai gangguan psikoseksual pada pasien stroke hingga saat ini masih menjadi topik yang masih asing di tengah masyarakat termasuk tenaga medis. Telaah ilmiah secara umum menyatakan adanya penurunan fungsi psikoseksual pasca stroke, walaupun masih ada banyak takbir yang belum terungkap dibalut mitos kontroversial. Semakin diperparah lagi dengan kondisi bangsa Indonesia yang relatif masih toleran terhadap praktek kedokteran yang tidak rasional.
Kebutuhan seksual merupakan salah satu aspek dalam kehidupan manusia yang penting dan sangat sensitif terutama bagi pasien pasca stroke yang mengalami gangguan psikoseksual. Empat aspek perilaku seksual manusia bisa mengalami gangguan berupa gangguan libido (desire), ereksi (arousal), orgasme, dan ejakulasi sebagai wujud manifestasi negatif dan komplikasi kronis dari serangan stroke.
Gangguan fungsi psikoseksual pasca stroke merupakan efek lanjutan dari defek neurologis yang terjadi baik akibat malfungsi organik dan stress psikis, maka diperlukan penanganan komprehensif dan berkelanjutan baik pengobatan medis, terapi seksual maupun sebatas pemberian konseling dan perbaikan komunikasi seksual. Disamping kecacatan fisik yang muncul dan penyakit yang melatarbelakangi kejadian stroke, maka dominasi problem psikis akan memperburuk dan menginisiasi timbulnya disfungsi seksual pada pasien pasca stroke baik laki-laki maupun perempuan.
Daftar Pustaka
- Anonim, American Heart Association. 2005. Stroke Statistics, Stroke Info. (Diakses : 2 September 2011). Diunduh dari : http://www.americanheart.org/presenter.jhtml? Identifier= 4725.
- Anonim, Encarta. 2006. Stroke, Emotion, Sexual Dysfunction, Psychosexual Disorder, Sexual. (Diakses : 2 September 2011). Diunduh dari : http://www.encarta.com.
- Anonim, Tim IDI. 2006. Info Penyakit Stroke. (Diakses : 2 September 2011). Diunduh dari : http://www.idionline.org/infoidi.stroke.
- Anonim, Stroke Team. 2006. Stroke, Sexual Dysfunction And Psychosexual Disorder. (Diakses : 2 September 2011). Diunduh dari : http://www.stroke.org.
- Anonim. Wikipedia Team. 2006. Stroke. (Diakses : 2 September 2011). Diunduh dari : http://www.wikipedia.com.
- Adnyana, I.Md.O. 1986. Gangguan Fungsi Seksual Pada Penderita Laki-laki Pasca Stroke. Denpasar : Laboratorium/SMF Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
- Duus, P. 1996. Anatomi, Fisiologi, Tanda Dan Gejala ; Diagnosis Topik Neurologi Edisi II. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- Kolodny, R.C., Masters, W.H., Johnson, V.E., Biggs, M.A. 1979. Textbook Of Human Sexuality For Nurses. St. Louis : Little, Brown And Company Boston.
- Misbach, J. 1998. Aspek Diagnosis, Patofisiologi Dan Manajemen Stroke. Jakarta : Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
- Ngoerah, I.G.N.Gd. 1990. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf. Surabaya : Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
- Nuartha, A.A.B.N. 1994. Beberapa Aspek Diagnosis Dan Penatalaksanaan Stroke Akut. Denpasar : Laboratorium/SMF Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
- Pangkahila, W.I. 2006. Disfungsi Ereksi. Jakarta : Yayasan Penerbit IDI.
- Pangkahila, W.I., Pangkahila, J.A., Adimoelja, A. Agustus 2009. Kumpulan Materi-Materi Pelatihan Intensif Seksologi (PIS) Basic XII. Denpasar : Bagian Andrologi Dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
- Supit, W. 2004. Stroke Menyebabkan Disfungsi Ereksi Tanpa Perbedaan Area Lesi Hemisferik Kiri Dan Kanan Pada Otak. Denpasar : Magister Ilmu Kedokteran Reproduksi Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Filed under: Andrology-Sexology Tagged: | disfungsi seksual, gangguan psikologis, pasca stroke, problem psikoseksual









