Sehatkan Jiwa ODHA

ODHA juga manusia!

ODHA juga manusia!

Kesehatan Jiwa ODHA

Wawancara Usadha Kul-kul ; Dr. Wayan Westa, SpKJ(K)

Oleh IGN Pramesemara

Adiksi terhadap narkoba membuat seorang pecandu menjadikan narkoba sebagai prioritas utama didalam kehidupannya. Narkoba adalah pusat kehidupannya, dan semua hal atau aspek lain dalam hidupnya hanya berputar di sekitarnya. Tidak ada hal lain yang lebih penting daripada narkoba, dan dia menaruh kepentingannya untuk menggunakan narkoba di atas segala-galanya. Narkoba menjadi jauh lebih penting daripada istri, suami, pacar, anak, orangtua, sekolah, dan pekerjaan. Narkoba dianggap sebagai sahabat yang selalu setia menemaninya. Ini menyebabkan pecandu seringkali hidup tersolir, dia hidup dalam dunianya sendiri dan mengisolasi dirinya dari dunia luar, yaitu dunia yang tidak ada hubungannya dengan narkoba.


Mengatasi adiksi narkoba tidaklah mudah, walau sudah tersedia berbagai cara mengatasinya baik medis maupun non-medis. Berbagai cara dan langkah telah dilakukan sejak lama, tetapi hasilnya tidak selalu menggembirakan. “Meski begitu, kita tidak pernah boleh bosan berusaha”, begitulah kutipan dari wawancara singkat dengan Dr. Wayan Westa, SpKJ(K) mengenai kesehatan jiwa seorang ODHA. Beliau adalah seorang psikiater, ahli kejiwaan yang cukup peduli khususnya terhadap permasalahan Narkoba dan HIV-AIDS di Bali. Hal ini terlihat dari keterlibatan Beliau sebagai Konselor PTRM Sandat RSUP Sanglah (Methadone) selain selaku staf pengajar di FK UNUD.

Berikut ini petikan hasil wawancara tersebut selengkapnya :

P (Pewawancara) : Bagaimana dampak kondisi kejiwaan seorang ODHA setelah mengetahui dirinya mengidap HIV-AIDS?

DW (Dr. Westa) : Secara konkrit terjadi goncangan yang keras pada jiwa semua manusia apabila dia mendapatkan info buruk terutama mengenai dirinya sendiri. Seperti contohnya para ODHA dimana sebagian besar mengakui mengalami kesedihan luar biasa, kecemasan hingga timbul perasaan depresi. Hal ini dikarenakan persepsi HIV-AIDS tidak dapat disembuhkan dan merupakan penyakit yang berat.

P : Apakah situasi itu (cemas dan depresi) terjadi pada seluruh ODHA? Dan hal-hal apa saja yang memperngaruhi kondisi psikis ODHA?

DW : Tidak pasti. Pada dasarnya setiap orang memiliki daya tahan diri yang berbeda-beda kadarnya tergantung dari status mental dan dukungan lingkungan sekitar termasuk support keluarga. Rasa cemas, depresi dan gangguan psikis lainnya pada ODHA merupakan manifestasi dari lemahnya ego seseorang dimana dirinya merasa terancam oleh penyakit HIV-AIDS dan tidak layak dicintai karena tidak sehat lagi. Selain itu, pola asuh ketika masa kanak-kanak dan genetik turut memegang peranan dalam pembentukan karakter psikologis manusia.

Beberapa ODHA dapat berbesar hati menerima keadaan dirinya dan rekan-rekan yang mengalami nasib sama. Mereka tidak larut dalam kesedihan, malah sebaliknya bersemangat tinggi untuk saling membantu menyebarkan informasi yang benar mengenai HIV-AIDS atau Narkoba, mengadvokasi sesama, rajin berobat, penjangkauan lapangan dan berbagai aktifitas positif lainnya.

P : Selanjutnya, bagaimana efek kejiwaan terhadap perawatan ODHA?

DW : Sangatlah besar pengaruhnya dimana dengan kondisi kesehatan jiwa yang stabil, maka perawatan seorang ODHA akan berjalan dengan baik. Ambil contoh seperti yang terjadi di Methadone selama ini bahwa sebagian besar pecandu tersebut dapat dengan rajin secara rutin berobat sehingga mampu memperpanjang kondisi fisik yang sehat dan terhindar dari perburukan (infeksi opportunistik).

P : Apa saja bentuk terapi bidang psikologik yang dapat diberikan?

DW : Secara umum dibagi dua jenis terapi psikis yang diberikan kepada ODHA, yakni medis dan non-medis. Mengambil contoh kegiatan pelayanan psikologik di Methadone, maka untuk pengobatan non-medis dapat berupa konseling psikiater, layanan VCT, kelompok dukungan, berlatih yoga dan CBT (Cognitive Behavioral Therapy). Tujuan pengobatan ini utamanya adalah memberikan rasa tenang baik jasmani maupun rohani.

Sedangkan mengenai terapi medis yang mempergunakan obat-obatan sebagai senjata, hanya diberikan apabila terdapat keluhan gangguan baik secara umum maupun kesehatan jiwa khususnya. Misalnya pada ODHA yang mengalami depresi dapat diberikan obat anti depresi, cemas diobati dengan obat anti cemas dan lainnya. Dalam perjalanannya, diperlukan pengawasan yang ketat terhadap dosis, kontraindikasi maupun komplikasi obat-obatan yang dikonsumsi ODHA.

Perlu diingat bahwa berbagai terapi diatas pada prinsipnya berupa pilihan dan boleh dilakukan secara bersamaan. Tak ada yang bisa mengklaim bahwa salah satu terapi adalah yang terbaik. Faktanya kebanyakan pecandu membutuhkan kombinasi semua alternatif pemulihan PTRM Sandat itu untuk lepas dari pengaruh narkotika. Ingat karena kecanduan tidak hanya merusak fisik, tetapi mental, spiritual dan emosional seseorang juga terkena imbasnya.

P : Akhir kata Dok, tips-tips praktis apa saja yang bisa diterapkan guna menjaga keseimbangan dan kestabilan jiwa ODHA? Terima-kasih.

DW : Kongkrit saja. Pertama, berusahalah untuk berperilaku hidup yang sehat, misalnya dengan makan yang teratur, tidur yang cukup, bekerja sesuai kemampuan, berekreasi dan tidak lupa untuk tetap berinteraksi sosial. Kedua, selalu berpikir yang positif bahwa semua manusia tidaklah sempurna diciptakan Tuhan, ada kelebihan dan ada pula kurangnya. Ciptakan gairah hidup dan bersikaplah yang logis.

Sekian.

One Response

  1. terima kasih info yang bermanfaat ini. salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: