“Orang Tua Responsif, Remaja Respek”

~ Sisipan Realita Dan Opini* ~

Keluarga ; Sumber Informasi Utama

Keluarga ; Sumber Informasi Utama

Bukanlah hal yang asing lagi di telinga Kita, bila mendengar berbagai keluhan yang menggambarkan kurang harmonisnya hubungan orang tua (ortu) dan anak remajanya. Sebagai contoh, ada ortu yang mengeluh lantaran anak remajanya mulai bertingkah aneh, sering berbohong agar bisa keluar rumah malam harinya. Atau sebaliknya keluhan seorang remaja terhadap sikap kedua ortunya yang melarang untuk pacaran.

Situasi ini umum terjadi di masyarakat, ketika para ortu mulai mengeluhkan anak remajanya yang berubah menjadi “musuh dalam selimut” dengan sikap pemberontaknya. Bertolak belakang sekali ketika remaja masih masa balita dulu, dimana sangat penurut dan mudah untuk diarahkan oleh orang tuanya.

Memang benar, usia remaja merupakan masa transisi menuju fase pendewasaan diri. Remaja dalam rentang kelompok umur 10-24 tahun (Kisara, 1994) adalah masa yang penuh gejolak jiwa, emosi dan psikologis yang labil, hingga konflik sering terjadi baik berasal dari dalam diri maupun luar diri, terutama berkaitan dengan interaksi terhadap ortu masing-masing.

Realita Hubungan Ortu Dan Anak Remajanya

Salah satu pemicunya adalah sikap ortu yang masih menganggap ”Anak Baru Gede (ABG)” selayaknya anak kecil, sementara sebaliknya kaum remaja mengkultuskan diri sudah dewasa, mampu untuk mengatur diri sendiri. Mungkin disinilah letak muara permasalahannya, tetapi kedepannya janganlah biarkan semua ini semakin berlarut-larut.

Penyebab lainnya adalah masih banyak orang tua dan guru yang belum memahami secara benar wawasan mengenai HIV/AIDS, Kesehatan Reproduksi dan Narkoba. Selain itu, cara komunikasi dan penyampaian orang tua dan guru yang cenderung masih kaku dan tidak terbuka turut memegang andil, hingga remaja kemudian menganggap komunikasi “CurHat (Curahan Hati)” dengan teman sebayanya adalah yang paling ideal, hanya fakta informasi yang didapat sering kali tidak proporsional dan keliru.

Tak heran bila kejadian kriminal, penyalahgunaan Narkotika, hubungan seksual di luar nikah dan lainnya yang dilakukan oleh remaja meningkat terus setiap tahunnya, tanpa ada harapan untuk menurun. Sebagai komunitas penghuni Bumi yang terbesar, termasuk diIndonesia, maka fenomena remaja tersebut bisa membuat dunia ini menjadi tempat berkumpulnya generasi yang “Sakit”.

Kagak percaya!Data UNAIDS (2006) sendiri menunjukkan, sekitar 50 persen pengidap HIV di dunia ada pada kelompok usia di bawah 25 tahun dari total saat ini sekitar 44 juta kasus. Dan fakta Di Departemen Kesehatan Republik Indonesia, hingga September 2003 dari sekitar 3.924 kasus HIV/AIDS, lebih dari 50 persen berusia di bawah 29 tahun atau sebagian besar terinfeksi adalah kelompok remaja (15–24 tahun). Sedangkan Bali, berdasarkan data awal tahun 2006 jumlah penderita sebagian besar menyerang usia produktif terutama kelompok pelajar remaja (14-19 tahun) sekitar 22 ODHA. Lebih mencengangkan, kalau semenjak ditemukannya kasus HIV/AIDS pertama di Bali pada tahun 1987, ternyata remaja (15-29 tahun) adalah kelompok terbesar pengidap HIV/AIDS dibandingkan kelompok usia lain (KPAD Bali, 2006) yang sebagian besar diakibatkan dari kecanduan dan penyalahgunaan narkoba, serta aktivitas seksual aktif yang bebas dalam bertukar pasangan.

Usaha Responsif Orang Tua

Maka besar harapan kepada orang tua sebagai pemeran kunci dan panutan anak remajanya untuk menyikapi hal ini. Banyak kiat yang bisa diamalkan ortu demi terciptanya keharmonisan dengan anak remajanya. Oleh karena itu, ditawarkan beberapa solusi yang bisa dianalogikan cerminan opini kaum remaja guna tercapai realita hubungan yang sehat dengan orang tuanya.

Diawali dengan usaha untuk menciptakan dan menjaga hubungan komunikasi yang baik antara ortu dengan anak remajanya. Jangan biarkan kesalahpahaman yang terjadi diantara kedua pihak ini mengalir begitu saja. Karena itu, Ortu sebaiknya berinisiatif lebih awal untuk membuka obrolan dengan anak remajanya. Bicarakan masalah psikologis yang terjadi, berilah kepercayaan dan wujudkan keterbukaan, ”demokrasi dalam rumah”.

Kedua, cobalah untuk responsif bahwa remaja bersikap menentang disebabkan emosinya yang masih belum mantap. Usia remaja cenderung menimbulkan masalah, sehingga ortu perlu peka menghadapinya. Kadangkala remaja merasa sudah dewasa untuk menentukan keinginan hidupnya, tanpa perlu mengindahkan rambu-rambu larangan. Maka haruslah diberikan kepercayaan disertai pertimbangan untuk memilah dan memilih keputusan yang bertanggung jawab dengan segala resikonya.

Selanjutnya adalah pahamilah gaya hidup remaja dengan sifat ingin tahu yang tinggi, suka coba-coba, iseng, gaul, trendy dan gagah-gagahan. Waspadalah bahwa berbagai sifat remaja tersebut, bisa saja malah menjerumuskan remaja kearah yang salah, terutama berkaitan dengan seks dan narkoba. Padahal remaja sendiri belum menyadari sepenuhnya dampak dari tingkah laku tersebut, sehingga bahayanya bisa memicu kerentanan terhadap resiko tertular infeksi menular seksual (IMS) bahkan penyebaran HIV/AIDS di kalangan remaja. Sudah saatnya ortu membuka dialog yang lebih mengerti dunia remaja.

Keempat, perlakukan remaja dengan selayaknya dan janganlah otoriter!. Jangan memperlakukan seperti ”bayi raksasa”, karena remaja sering merasa dirinya telah dewasa. Jika remaja mempunyai adik kecil, usahakan tidak memberlakukan aturan yang sama. Rasa bijaksana juga perlu dikembangkan ortu dengan mengajarkan untuk bersikap wajar tanpa berkesan berlebihan, apalagi sampai merugikan orang lain. Non otoriter (Otoritatif) bisa dicoba ketika remaja tertarik kepada lawan jenis. Hendaknya ortu menyadari bahwa masa pacaran hanyalah suatu proses perkenalan saja.

Tak kalah penting adalah menanamkan sifat sabar, jikalau remaja terlihat mulai doyan berbohong ataupun suka kritis terhadap nasehat hidup, janganlah melabraknya langsung. Ciptakan atmosfer untuk memberikan kesempatan kepada remaja memahami kesalahan dan bagaimana memperbaikinya. Hendaknya jangan ”ringan tangan” atau terkesan mendesak agar segera mengakui kesalahannya. Ingat, semakin dilarang maka semakin penasaran remaja untuk mendobrak aturan tersebut. Semakin didesak, maka makin kuat pula tameng remaja.

Perlu diingat bahwa tidak ada remaja yang 100% penurut dan berperilaku sesuai keinginan orang tua. Suatu saat bila remaja pulang larut malam karena ”gaul” dengan teman-temannya, sebaiknya masih dapat diterima, asalkan dengan alasan yang wajar dan telah meminta ijin sebelumnya. Tapi tetap terapkan disiplin dengan aturan yang tegas, lengkap dengan konsekuensinya jika masih melanggar dikemudian hari. Ini penting untuk membentuk karakter remaja yang bertanggung jawab.

Kemudian berusahalah mentransfer pengalaman-pengalaman hidup ortu yang sesuai. Hal ini janganlah terabaikan guna mempersiapkan konstruksi sosial remaja sejak dini. Sampaikan ajaran etika, nilai norma kehidupan dan etos disiplin sejak balita agar terbentunya pola pikir remaja yang teratur. Kaum Remaja sudah cukup siap dan mampu secara serius mempelajari masalah sosial dan mempertanyakan nilai moral secara lebih mendalam.

Dan hal terakhir yang bisa ditawarkan kepada orang tua adalah jangan lupa secara intensif mendorong remaja untuk melakukan aktivitas sosial dan segala kesibukan positif lainnya yang bermanfaat untuk meningkatkan rasa percaya diri. Cara lainnya adalah tidak melarang realisasi hobi, mengembangkan potensi dan minat-bakat remaja sepanjang itu menyenangkan dan positif. Ingat, bahwa pada usia ini berkembang pesat kemampuan berpikir tentang konsep abstrak dan kepekaan terhadap sesuatu hal.

Cobalah Percaya Pada Remaja!

Tiap-tiap Ortu punya cara tersendiri dalam mengasuh anaknya. Maccoby, seorang psikolog menyatakan bahwa terdapat dua pola asuh Orang Tua (Ortu), yaitu ”Parental Demandiness” berupa tuntutan Ortu terhadap anaknya dan ”Parental Responsiveness” mencerminkan responsivitas Ortu terhadap kebutuhan anaknya. Keduanya idealisme tersebut diharapkan berjalan dengan porsi yang seimbang dalam kehidupan rumah tangga. Tidak lupa bekalilah remaja dengan pondasi citra diri yang kuat agar remaja tidak mudah terpengaruh pengaruh buruk pergaulan bebas di masyarakat dan lingkungannya.

Demikianlah, semoga tulisan ini dapat membuka tabir hubungan komunikasi Ortu dan anak remajanya. Sehingga cita-cita mulia untuk membentuk keluarga kecil yang berkualitas sebagai tumpuan masa depan dapat tercapai. Akhir kata, ada harapan mengajak Orang Tua untuk peduli terhadap Remaja dan sebaliknya pula Remaja untuk menjadi anak ”Suputra” yang berbakti terhadap orang tuanya, berwawasan luas dan bertanggung jawab.

*Dr.IGN Pramesemara,SKed – 8607064/081338605087

Chief de Clinique “Kisara Youth Clinic” – 9105250

(Diuduh dari Buku Lentera 2006-KPAD Bali)

5 Responses

  1. Viva remaja!!!

  2. yyyyyyoooooooooooiiiiiiiiiiii
    muuaaanntap

    maju terus blogger bali!!!!
    pak dokter jadi blogger

  3. Sip trimakasih imadeharyoga.com n bungkeriting.com, moga kita bisa lebih maju lagi membawa suara remaja yg kita peduli bersama

  4. Manteps…….
    Terus nulis Pram…..

    Maju terus dokter n Blogger

  5. Yoi thx senior blogger, infokan tips2 ngeblog donk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: