“Kontroversi MiRas dan Realitas HIV/AIDS di Bali”

miras1Beberapa waktu yang lalu, mungkin krama (masyarakat) Bali khusunya menyadari bahwa telah terjadi suatu polemik publik berkaitan dengan munculnya pabrik-pabrik minuman keras (Miras) beralkohol di Penyalin dan di Pucuk, Tabanan. Fenomena menahun “Lama tapi Baru” tersebut memunculkan banyak wacana yang kontras. Antara kalangan birokrat pemerintahan dan pengusaha yang terkesan pro, berbeda dengan masyarakat Bali pada umumnya yang memilih bersikap kontra.

Yang pro beralasan akan dapat membantu meningkatkan retribusi “Pendapatan Asli Daerah” (PAD) dan cukup menampung tenaga kerja, mengurangi biaya devisa untuk import Miras, disertai embel-embel bahwa peredaran hasil produksinya tidak akan dijual diBali. Disamping itu, terkutip juga suara-suara para wakil rakyat yang meminta masyarakat janganlah apriori dengan adanya pabrik Miras tersebut. Karena kalau tidak meminum langsung hasil produksinya, tentulah Kita tidak akan kecanduan. Selain itu, dijanjikan pula dalam distribusinya akan selalu diawasi.

Sedangkan kaum kontra beralasan karena hal itu dapat merusak generasi muda. Dampak negatif lainnya, akses masyarakat akan semakin mudah untuk mendapatkan Miras. Lambat-laun kemungkinan akan semakin luas masyarakat yang memiliki ketergantungan terhadap Miras, terutama mempengaruhi kehidupan para generasi muda. Dari pengalaman, dengan masih maraknya peredaran miras lokal (sejenis arak atau tuak) saja sudah cukup meresahkan masyarakat Bali dimana sering menimbulkan tindakan kriminal hingga bentrokan pemuda antardesa pakraman.

Perang Melawan Arak Bali

Perang Melawan Arak Bali

Tak lupa sebagai perbandingan, hendaknya kita sama-sama berkilas balik jauh kebelakang. Masihkah ingat terhadap realita penyalahgunaan “Arak Methanol”? Kasus ini sempat menjadi topik bahasan utama sebagai gambaran efek negatif miras. Dan camkanlah bahwa pada akhirnya para generasi muda yang menjadi korban utama. Kembali lagi sejalan dengan waktu, fakta itu seakan perlahan-lahan menguap menghilang dan yang tersisa hanya cerita, tanpa kita tahu bagaimana penyelesaiannya.

Untuk itu, marilah kita lihat dan mencoba menganalisa kedua fenomena miras diatas secara seksama dan dengan pertimbangan akal sehat. Kenapa miras harus kita perdebatkan? Yakinkah, apakah betul akan tercapai dampak positifnya? Sedikit berlogika, cobalah kita membandingkannya! Seberapa banyak peningkatan PAD yang Bali bisa dapatkan dari keberadaan miras? Apakah mampu mengimbangi dampak negatif miras terhadap generasi muda Bali nantinya?.

Apapun bungkus kemasannya, “Miras ya tetap minuman keras!”. Minuman yang mengandung alkohol dimana ideal penggunaannya hanya untuk hal-hal yang berindikasikan medis. Alkohol sebagai bahan utama miras termasuk kedalam golongan “NAPZA” (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya) yang sangat diharamkan keberadaannya. Napza (Narkoba atau Naza) adalah zat-zat kimiawi baik bersifat natural maupun sintetik yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, baik secara oral melalui mulut maupun yang dihirup melalui hidung. Penggunaan Napza secara berkelanjutan akan mengakibatkan ketergantungan secara fisik dan atau psikologis serta kerusakan pada sistem syaraf (otak) dan organ-organ otonom (jantung, paru, ginjal, hati, lambung dan pankreas). Apabila ketergantungan terhadap Alkohol sudah terjadi, keadaan ini secara lebih khusus disebut Alkoholisme.

“Alkohol merupakan zat psikoaktif yang paling berbahaya!”. Berupa cairan yang mengandung etanol (etil-alkohol) yang mampu berfungsi menekan syaraf pusat, mempengaruhi fungsi faal tubuh maupun perilaku seseorang, mengubah suasana hati dan perasaan. Alkohol bersifat menenangkan, menghilangkan rasa sakit dan membius, tetapi juga dapat merangsang dan rasa gembira yang berlebihan. Alkohol mempengaruhi sistem syaraf pusat sedemikian rupa sehingga kontrol perilaku seseorang menjadi berkurang. Efek alkohol tidaklah sama pada semua orang, melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor fisik, mental, dan lingkungan sekitarnya. Banyak pendapat ahli yang mengatakan bahwa bahaya alkohol jauh lebih besar daripada obat lainnya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika penggunaan Miras sangat beresiko menimbulkan permasalahan masyarakat lebih lanjut. “Minum Miras, maka kontrol psikososial seseorang akan hilang!”. Selain sebagai pemicu timbulnya tindakan kriminal dan kecelakaan lalu-lintas, Miras juga secara tidak langsung mempercepat penyebaran virus HIV dan meningkatkan kejadian AIDS. Tindakan-tindakan negatif yang beresiko terhadap penularan HIV/AIDS, seperti penyalahgunaan napza dan hubungan seks yang bebas bertukar pasangan pun semakin mudah terjadi.

Sudah lebih dari 44 juta orang didunia ini yang terinfeksi HIV dan lebih dari 25 juta orang yang meninggal dunia karena AIDS (WHO, 2006). Atau untuk di Indonesia, menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2006 terdapat sekitar sebelas ribu penduduk Indonesia yang positif terinfeksi HIV dengan sekitar 1600 orang yang meninggal dunia karena AIDS. Secara umum di seluruh dunia sebagian besar kasus HIV/AIDS bersumber dari penyalahgunaan Napza terutama pengunaan jarum suntik sekitar 47% dan hubungan seks bebas kira-kira 36% (WHO, 2006). Yang terpenting lagi bahwa kasus HIV/AIDS di Bali memakan korban utama dari kalangan remaja dengan rentang usia 10-29 tahun sekitar 57% (Kisara, 2006).

Dari analisa sederhana ini, disimpulkan dampak negatif Miras jauh lebih besar daripada dampak positifnya. Selayaknyalah semua pihak bersatu-padu, bahu-membahu mengatasi permasalahan Miras dalam berbagai bentuk operasionalnya. Selain itu, guna menghormati kearifan adat-istiadat dan nilai-nilai spiritual masyarakat Bali, tentulah pembangunan pabrik Miras sangatlah bertentangan. Dan seperti aspirasi yang dikutip dari spanduk warga banjar adat Baleagung, Desa Bantas Tabanan bahwa ”Menolak 100% keberadaan pabrik Miras, rakyat akan sengsara dan Bali akan hancur!”.

Tidak Ada Untungnya Mabuk

Tidak Ada Untungnya Mabuk

Sehubungan dengan perjuangan melawan epidemi AIDS, maka seyogyanya kita mulai merubah sikap berperilaku dan berpikir yang aman dan sehat. Janganlah hanya memandang keuntungan segelintir pihak ataupun dari kenikmatan sesaatnya saja, karena kalau dibiarkan maka inilah pertanda genderang lonceng kehancuran generasi penerus bangsa mulai ditabuhkan. “Keep The Promise, Stop AIDS!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: