PERLUNYA MENGEMBANGKAN PELAYANAN KESEHATAN KHUSUS REMAJA

Pendahuluan

Belum lama ini kita semua mungkin terperangah mendengar berbagai pemberitaan menghebohkan di media massa mengangkat realita yang dialami oleh kaum remaja di Indonesia. Dimulai dari peristiwa seorang remaja putri yang mengalami kehamilan mereka tidak diinginkan (KTD) melakukan persalinan atau melahirkan bayinya di dalam sebuah bemo yang dikendarai oleh Bapaknya sendiri, tepat berada di halaman depan Instalasi Rawat Darurat (IRD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah di Bali.6

remaja_oldKembali di Bali terdengar kabar seorang remaja putra yang putus sekolah telah melakukan pelecehan seksual hingga pemerkosaan terhadap delapan orang remaja putri di Tabanan. Yang mencengangkan, remaja tersebut mengakui bahwa dirinya sudah terbiasa dan sering memaksa melakukan hubungan seksual kepada semua remaja putri yang dipacarinya dengan alasan ingin merasakan keperawanan dari siswi-siswi tersebut. Kabar berita terakhir mengatakan ada seseorang remaja putri yang menjadi korbannya, telah mengandung (hamil) tujuh bulan.5

Tidak berhenti sampai disana, muncul pula berbagai fakta-fakta negatif tentang remaja. Seperti berbagai tayangan video singkat yang direkam melalui handphone menggambarkan adegan mesra sepasang remaja melakukan hubungan layaknya suami-istri ataupun film amatir lainnya yang memperlihatkan perkelahian beberapa remaja putri sekolah menengah pertama (SMP) memperebutkan seorang remaja putra.  Selain itu, mulai terbuka selubung tirai kriminalitas remaja dimana didapati banyak klinik dan tenaga medis illegal yang melayani aborsi pasangan remaja secara tidak aman dan tidak bertanggung-jawab.3

Problematika Masa Remaja

Kenyataan diatas merupakan sebagian dari fakta yang dialami remaja. Masih banyak yang terjadi seputar kaum remaja, misalnya Hubungan Seksual Pra Nikah (HSPN), aborsi yang tidak aman (Unsaved Abortion), hubungan seksual yang bebas dan tidak bertanggung jawab, penyalahgunaan narkotika dan alkohol, merokok, penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus dan Aquired Immunodeficiency Syndrome), KTD dan aborsi hingga kasus pernikahan dini.1,3 Namun, hingga saat ini berbagai kenyataan tersebut masih saja dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak yang sepatutnya memiliki kewajiban untuk memperjuangkan hak-hak para remaja

adolescent-clinic02Masa remaja dengan rentang usia berkisar 10 sampai 24 tahun adalah suatu fase peralihan dari masa kanak-kanak (dependent) menuju masa dewasa (independent) dan normal terjadi pada kehidupan manusia.3 Dalam periode tersebut seorang remaja akan banyak sekali mengalami perkembangan dan pertumbuhan guna mencari identitas dan jati dirinya. Berbagai perubahan akan muncul baik dari sisi psikologis, fisik (pubertas) dan sosial lingkungan.4

Problematika kaum remaja dapat terjadi sehubungan dengan adanya perbedaan kebutuhan (motif) dan aktualisasi dari kemampuan penyesuaian diri (adaptasi) remaja terhadap lingkungan tempat hidupnya dan tumbuh berkembang sebagai seorang pribadi manusia dan makhluk sosial.3 Masa transisi ini merupakan masa yang kritis bagi remaja, disaat muncul keinginan lepas mandiri dari ketergantungan orang tua, rasa ingin tahu yang berlebihan dan mulai rentan terhadap perilaku beresiko.1

Diperkirakan 20-30% dari total populasi di masing-masing kabupaten maupun kotamadya di Indonesia adalah tergolong kaum remaja yang persentase terdistribusi secara hampir merata. Jika diestimasi dari jumlah penduduk Indonesia yang saat ini sekitar 250 juta, maka diperkirakan terdapat total 50-75 juta jiwa kaum remaja. Untuk di Bali, terdapat sekitar 700.000-850.000 orang yang berusia remaja hidup dari keseluruhan sejumlah 3,5 juta jiwa penduduk di Bali.3 Apabila kita meninjau lebih jauh lagi, maka terdapat sekitar 1 milyar penduduk dunia adalah kaum remaja (hampir 1 dari 6 penduduk) dan 85% remaja ternyata hidup di Negara berkembang. Dengan keadaan piramida penduduk yang terbalik, hendaknya remaja mendapatkan prioritas perhatian dari semua pihak yang.4

Ditemukan fakta ternyata banyak remaja yang sudah aktif secara seksual, meskipun tidak selalu atas kehendak sendiri, dan dibeberapa negara berkembang kira-kira separuh dari mereka sudah menikah. Aktifitas seksual dini yang tidak bertanggung jawab menempatkan remaja menghadapi berbagai tantangan resiko kesehatan reproduksi.2,4 Diseluruh dunia pada tahun 1997 diperkirakan 15 juta jiwa lebih remaja putri berusia 15-19 tahun yang melahirkan, 4 juta diantaranya melakukan unsafe abortion dan hampir 100 juta orang remaja yang terkena IMS. Secara global pun didapatkan data 40% dari total kasus HIV terjadi pada kaum muda yang berusia 15-24 tahun atau diperkirakan lebih dari 7.000 remaja terinfeksi HIV setiap harinya.4

Sedangkan di Indonesia sendiri, ditemukan prediksi sekitar 700.000 ribu kasus aborsi pada tahun 2003 dan 50% termasuk unsafe abortion. KTD pada remaja Indonesia juga diestimasikan meningkat setiap tahunnya sebesar 150.000-200.000, 10% remaja usia 15-19 tahun sudah menikah dan memiliki anak.4,6 Berbagai risiko kesehatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, misalnya tuntutan kawin muda dan berhubungan seksual, kurangnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketimpangan gender, kekerasan seksual, pengaruh negatif media massa dan kemajuan teknologi, maupun gaya hidup modern yang bebas.1,2

Solusi Berkesinambungan Untuk Remaja

Untuk mengatasi berbagai permasalahan remaja kesehatan reproduksi yang berisiko tinggi tersebut  dapat dilakukan melalui beberapa metode pendekatan sebagai upaya pencegahan dan penatalaksanaan perlu dilakukan secara simultan dengan pendekatan komprehensif. Dipacu rekomendasi dari hasil piagam International Conference On Population And Development (ICPD) tahun 1994 di Kairo, program peduli remaja pun mulai digalakkan di berbagai negara baik yang dijalankan oleh pemerintah maupun organisasi setempat.4

teenKetiga inti upaya yang berkesinambungan bagi remaja berupa usaha di bidang pendidikan (edukasi), pencegahan (preventif) dan pelayanan kesehatan (kuratif). Upaya-upaya itu sangat membutuhkan peran-serta masyarakat dan seluruh pihak yang ada, yaitu intervensi pada individu remaja, intervensi keluarga, lingkup sekolah, lingkup pemerintah, dan komunitas yang peduli maupun media massa. Tanpa peran serta seluruh pihak, maka usaha yang kita lakukan akan sia-sia saja.3

Saat ini, upaya edukasi telah dijalankan di beberapa daerah propinsi di Indonesia telah mulai menjalankan kurikulum kesehatan reproduksi sejak dini yang ditujukan kepada siswa-siswi SMP dan SMA. Pelaksanaan kurikulum tersebut terintegrasi dalam mata pelajaran Biologi untuk bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Sosiologi untuk bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Selain itu, edukasi mengenai kesehatan reproduksi remaja juga diterapkan pada kegiatan ekstrakurikuler dengan terbentuknya Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) sebagai wadah pemberdayaan remaja.3

Untuk upaya pencegahan juga sudah banyak dikerjakan baik oleh institusi pemerintah maupun non-pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap remaja. Dalam pelaksanaannya upaya edukasi dan pencegahan sering dijalankan secara bersamaan, misalnya aksi kampanye di lapangan sekaligus pembagian kondom secara gratis kepada kelompok remaja yang berisiko.3

Layanan Kesehatan Khusus Remaja

Namun dalam perjalanannya, ternyata solusi ketersediaan akses pelayanan kesehatan klinis khusus remaja masih sangat kurang dikembangkan di Indonesia.5,8 Padahal mendapatkan pelayanan kesehatan adalah hak setiap manusia. Sehingga remaja juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses kesehatan layaknya esklusifitas pelayanan klinis khusus pada anak-anak, ibu ataupun orang tua. Layanan kesehatan yang meremaja tersebut haruslah terjangkau, mudah diakses, multidisiplin dan bersifat tidak diskriminatif.3,7

Berdasarkan fakta-fakta remaja diatas dan data konseling yang telah masuk ke Kita Sayang Remaja (KISARA) selama ini, banyak remaja di Bali yang mengalami permasalahan medis dan seksualitas.3 Kondisi inilah yang perlu segera disikapi bahwa remaja sangat memerlukan layanan kesehatan dan merupakan sebuah kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Saat ini sudah mulai dikembangkan klinik kesehatan yang khusus melayani remaja di beberapa RSUP di Indonesia, namun dalam perjalanannya kurang disosialisasikan keberadaannya.7,8

Menyikapi hal tersebut, KISARA mendirikan Klinik Remaja sejak 1 September 2008 yang berlandaskan hasil re-need assesment perwakilan remaja di Bali untuk menggali kebutuhan mereka akan layanan kesehatan. Adapun bentuk pelayanan kesehatan Klinik Remaja berupa pemeriksaan kesehatan umum, pengobatan penyakit umum dan IMS, konsultasi umum, konseling remaja, penyediaan informasi mengenai kesehatan reproduksi dan narkoba, layanan VCT (Voulentary Counselling And Testing) remaja, konsultasi berat badan ideal, serta akses kontrasepsi remaja (kondom) untuk kasus yang  terseleksi. Layanan kesehatan ini mesti didukung oleh tenaga dokter dan perawat yang profesional dan tentu saja haruslah mengerti akan karakteristik remaja dengan segala permasalahannya.3

Sejak berdiri, Klinik Remaja KISARA tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan secara pasif saja, namun juga telah mengembangkan layanan kesehatan aktif (Outreach) guna menjangkau lebih banyak remaja lagi, promosi kesehatan pada remaja yang berisiko, realisasi pembuatan media edukasi dan melakukan skrining kesehatan remaja. Selama empat bulan berdirinya Klinik tersebut, dilaporkan telah mampu melayani dan mengkonseling 177 orang remaja dengan KTD dimana sebagian besar masih berstatus mahasiswa, belum menikah dan memiliki keinginan untuk aborsi. Disamping itu, Klinik Remaja KISARA juga mampu melayani kesehatan umum sebanyak 364 klien dalam rentang waktu yang sama.3

Kesimpulan

Secara umum pendirian Klinik Remaja ditujukan untuk mewujudkan remaja yang sehat dan bertanggung jawab. Layanan kesehatan khusus remaja ini juga bertujuan untuk memberdayakan remaja dalam aspek kesehatan pada umumnya dan kesehatan reproduksi pada khususnya agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi remaja yang bertanggung jawab dalam berperilaku sosial maupun terhadap perilaku seksual yang telah dilakukannya. Dengan akses yang lebih mudah, cepat dan tepat mengenai informasi-informasi seputar kesehatan medis umum, kesehatan reproduksi dan psikologis, maka dipastikan secara langsung dapat mengurangi berbagai kasus permasalahan remaja.

Diharapkan Klinik Remaja dapat menjadi acuan sumber data dan media advokasi guna mewujudkan remaja Indonesia yang sehat dan bertanggung jawab, mampu membentuk remaja yang bisa memenuhi tantangan era globalisasi, serta memberikan sumbangsih untuk tercapainya Millenium Development Goals pada tahun 2015. Oleh karena itu, sangat diperlukan pemikiran dan aksi realisasi bersama untuk secara kongkrit mulai ikut membangun dan mengembangkan pelayanan kesehatan berbasis remaja di Indonesia.

Daftar Pustaka

  1. Ranuh IGNG. Klinik Remaja. Dalam : Soetjiningsih, penyunting. Tumbuh Kembang Remaja Dan Permasalahannya. Cetakan Kedua. Jakarta : Penerbit Buku Sagung Seto. 2007 ; Bagian III : 293-302.
  2. Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Pengakuan Dan Pemenuhan Hak-Hak Reproduksi Dan Seksual Remaja. Jakarta : Tim International Youth Day. 2006.
  3. Pramesemara IGN. Kisara Youth Clinic. Denpasar : Integrated Youth Center – KISARA PKBI Provinsi Bali. 2008.
  4. Triswan Y, Djaelani-Gordon J, Pratomo P. Out Look : Kesehatan Reproduksi Remaja : Membangun Perubahan Yang Bermakna. (Diakses : 28 April 2009). Diunduh dari : http://www.pathfind.org/focus/publicat/outlook/ina.pdf. Desember 1998.
  5. Tinten A. Dari Seminar Kesehatan Remaja Di RS Sanglah. (Diakses : 28 April 2009). Diunduh dari : http://www.cybertokoh.com/berita/seputarkita.html. 14 Agustus 2006.
  6. (Diakses : 28 April 2009). Diunduh dari : http://www.tempointeraktif.com/nasional/daerah.html. 16 Pebruari 2009.
  7. Utamadi GT. Kita-kita : Memimpikan Klinik Remaja. (Diakses : 28 April 2009). Diunduh dari : http://www.guntoro.wordpress.com. 2008.
  8. Fadilah H. klinik Remaja : Sarana Detemsi Dini Dan intervensi. (Diakses : 28 April 2009). Diunduh dari : http://www.kbi.gemari.or.ig/online/redaksi.html. 27 Juli 2005.

5 Responses

  1. bagus banget pram
    aku di link back ya.

    http://owthey.blogspot.com

  2. @ode : thanx brother….keep rockin’
    viva double helix 2002

  3. Mank perlu pendidikan sex tuk remaja agar mereka tidak semakin terpelanting jatuh dalam ya?

  4. Ya mank pendidikan sex amat penting dan mendesak agar tidak semakin terpelanting dalam ya..

  5. Sangat penting sekali memberikan pendidikan terutama ttg seks dan bahaya seks bebas pra nikah bagi remaja. Pendidikan yg terpenting melalui pendidikan agama, moral dan kesehatan.

    Salam kenal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: