Berempati Pada Remaja Dengan HIV

hiv positive

ReDHA ; Remaja Dengan HIV/AIDS

Mengutip isi sebuah harian lokal, ketika itu  tersiar kabar mengenai remaja Bali yang kemudian cukup membuat heboh dunia pendidikan. Berawal dari fakta yang disampaikan oleh dr.Oka Negara sesaat memberikan Pelatihan Penanggulangan Bahaya HIV/AIDS pada salah satu SMK di Bali pertengahan tahun 2006 yang lalu. Selaku kordinator Kita Sayang Remaja (KISARA) Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) provinsi Bali menyampaikan fakta bahwa ketika itu sedikitnya terdapat dua pelajar setingkat SMA/SMK di Bali yang kemungkinan mengidap HIV positif. Keduanya tertular akibat penyalahgunaan narkoba dengan jarum suntik dan aktifitas seksual bebas bertukar pasangan.

remaja skull

Pernyataan tersebut kemudian menjadi topik bahasan masyarakat Bali. Jalur telepon dan akses masuk ke Kisara pun sibuk jadinya, karena banyak pihak ingin mendapatkan kejelasan perihal tersebut. Seakan haus akan informasi dan sifat kritis. Sejenak kita perlu merenungkannya guna mencari benang merahnya. “Kenapa hal tersebut bisa membuat khalayak bersuara? Memang bencana apa yang terjadi dengan remaja kita?”. Padahal kalau saja sempat menelaah lebih dalam bahwa angka tersebut hanyalah sebagian kecil dari total seluruh kasus HIV/AIDS  yang mengenai remaja, di Bali, Indonesia bahkan dunia.

Data UNAIDS, organisasi PBB yang mengurusi permasalahan AIDS dunia pada tahun 2006 menunjukkan sekitar 56% pengidap HIV dari total 44 juta kasus di dunia adalah pada kelompok usia di bawah 25 tahun. Fakta di Indonesia hingga September 2003, lebih dari 50% kasus pada kelompok umur dibawah 29 tahun dari sekitar 3924 kasus HIV/AIDS.  Untuk di Bali sendiri berdasarkan kutipan data pada tahun 2006, sebagian besar pada usia produktif terutama kelompok remaja (15-29 tahun) adalah kelompok terbesar penyumbang pengidap HIV/AIDS terbesar dibandingkan golongan lainnya (KPAD, 2006). Dan semenjak kasus HIV/AIDS ditemukan pertama kali di Bali (15 April 1987) yang juga merupakan kasus pertama di Indonesia, didapatkan keadaan bahwa kelompok remaja selalu menduduki peringkat pertama Orang dengan HIV/AIDS.

Saat tidak sedikit remaja terkena HIV/AIDS, muncullah pertanyaan “Ada apa dengan remaja kita?”. Banyak jawaban untuk pertanyaan tersebut. Masa Remaja dalam rentang umur 10-24 tahun (Kisara) dengan ketidakstabilan emosinya merupakan kelompok yang berisiko tinggi terhadap penyebaran HIV/AIDS. Karena sifat dan perilaku mereka yang ingin tahu, suka coba-coba, ikut-ikutan, iseng, nge-genk, gagah-gahan dan gaul mengakibatkan kerentanan terhadap tren penyalahgunaan narkoba hingga perilaku seks bebas dan tidak bertanggung jawab. Padahal mereka sepenuhnya belum menyadari dampak selanjutnya yang ditimbulkan, yang memicu kemungkinan tertular atau menyebarkan HIV/AIDS ke remaja lainnya.

Kerentanan remaja terhadap bahaya epidemi HIV/AIDS juga disebabkan ketiadaan akses informasi yang tepat. Walaupun era globalisasi telah dijalani, namun ibarat pepatah “senjata makan tuan”, arus deras informasi malah menjerumuskan dan makin menyesatkan remaja ke sisi negatif. Semua wawasan terserap tanpa tersaring terlebih dahulu, mana yang lebih baik dan mana pula yang lebih buruk.

“Trias Komunikasi Remaja” ikut serta bermasalah. Antara orang tua di rumah, guru sebagai panutan di sekolah dan teman sebaya dalam kesehariannya, mereka tidak menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik selaku sahabat remaja. Banyak orang tua dan guru yang belum paham betul dengan HIV/AIDS, kesehatan reproduksi. psikologi remaja apalagi narkoba. Cara komunikasi dan penyampaian orang tua dan guru yang cenderung kaku dan tidak terbuka turut memegang andil. Sehingga remaja cenderung menganggap hubungan komunikasi dengan teman sebaya adaah yang paling ideal. Sayangnya, informasinya sering tidak proporsional dan keliru.

Sehingga diperlukanlah kepedulian kita bersama untuk berempati terhadao remaja. Bukan memupuk keterkejutan sesaat bahkan kerisauan masyarakat yang berlebihan. Bahkan hingga menimbulkan pengucilan (stigma atau diskriminasi)  terhadap remaja. “Mari cobalah kita untuk berempati terhadap ReDHA, OdHA maupun OHidA! Bagaimana rasanya jika kita yang terkena HIV/AIDS?”.

Beberapa alternatif mencegah keterpurukan remaja lebih lanjut, misalnya dengan mengajak remaja untuk peduli HIV/AIDS melalui pembentukan pusat-pusat pendidikan, informasi dan konsultasi sebaya, dukungan kepedulian hingga terlibat dalam pendampingan terapi, serta usaha penerapan kurikulum berbasis intra maupun ekstra sekolah mengangkat topik kesehatan reproduksi, HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkotika.

Disamping itu, bersama-sama melakukan berbagai upaya pencegahan terutama harapannya hendaknya diinisiasi oleh pihak pemerintah. Barangkali tidaklah berlebihan dan sudah saatnya remaja ikut menyuarakan kepentingan golongan remajanya dan memperjuangkan “Stop Stigma”.

Remaja dengan HIV positif ataupun ODHA tidak ada bedanya dengan manusia lainnya. Mereka punya hak untuk hidup dan kewajiban untuk mengisinya. Pada akhirnya diharapkan dapat menanamkan konsep remaja yang bertanggung jawab sebagai tulang punggung penerus bangsa dan negara ini.

buku lentera

*****

5 Responses

  1. Pertamaxxx…..betul kakpram…trias remaja harus lebih dibenahi….mari kita sama-sama membekali diri dan memposisikan dir sebagai pendamping remaja….salam kak

  2. semoga dengan semakin meningkatnya wawasan tentang HIV/AIDS dapat menghindari kita terserang dari penyakit mematikan ini, tapi ingat jangan mengucilkan mereka yang menyandang HIV positif

  3. keadaan remaja memang meprihatinkan.. terkadang harus terjebak oleh kata cinta dan sayang.. diri dan kehormatan pun jadi korban.. hingga tubuh kemudian hanya menjadi gudang penyakit..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: