Waspada! Disfungsi Seksual Juga Mengancam Remaja

Disfungsi Seksual Usia Muda ; Fakta, Mitos, Masalah dan Penanganannya

male sexualitySelamat pagi Kisara, Aku mo nanya? Aku lagi bingung sekaligus takut. Aku cowok, umur 18 tahun, mahasiswa dan tinggal di Denpasar. Aku perokok dan sudah sering ML (making love atau berhubungan seks) dengan pacarku walau belum menikah. Saat ML, anu-ku (penis) terasa agak lembek sehingga terlihat ukurannya jadi kurang besar.

Ditambah lagi, Aku selalu kecepatan keluar air spermanya (ejakulat). Kata temen-temenku kalo terus begitu, maka Aku bakalan tidak pernah bisa memuaskan istriku. Apa solusinya???? Aku sempat tergoda dengan praktek atau ramuan tradisional, boleh enggak mencobanya? Terimakasih.

Pendahuluan

Selama ini apabila kita membicarakan mengenai remaja, maka yang langsung terlintas dibenak kita bahwa usia muda merupakan momen kehidupan yang penuh dengan energi, sehat dan vitalitas tinggi. Padahal wacana tersebut tidaklah sepenuhnya benar sehingga tidak jarang menimbulkan salah persepsi di masyarakat. Sebagai contoh, mungkin bersumber dari keterkejutan kita setelah menyimak ilustrasi kasus remaja dengan disfungsi seksual diatas yang pernah tercatat masuk di Kisara, LSM Peduli Remaja di Bali.

mak erot

Tidak dipungkiri remaja kita telah terpapar oleh berbagai mitos dan informasi yang kurang tepat berkaitan dengan seksualitas maupun praktek-praktek pengobatan yang tidak ilmiah. Belum tentu, semakin besar ukuran penis, maka akan semakin memuaskan. Kepuasan seksual sebenarnya tidak ditentukan oleh besar kecilnya ukuran penis saja melainkan secara keseluruhan oleh keempat fungsi seksual, yaitu cukupnya dorongan seksual, kemampuan ereksi normal, bisa mengontrol ejakulasi dan keberhasilan mencapai orgasme.

Ketika masih banyak pihak membahas mengenai impotensi ataupun problema seksual lainnya dan mengganggap penyakit itu khusus hanya mengenai orang dewasa dan para lanjut usia. Mereka tidak pernah menduga jika ternyata remaja juga rentan mengidap gangguan-gangguan seksual. Anggapan itu juga didukung dengan pola pikir masyarakat kita di Indonesia yang masih tabu yang menyatakan masalah hubungan seksual adalah masalah yang sepatutnya dibicarakan antara suami istri dan diperburuk lagi oleh kurangnya wawasan mengenai kesehatan reproduksi.

Kehidupan Remaja Dan Fungsi Seksualnya

Remaja adalah kaum muda yang berusia diantara 10-24 tahun (Kisara,1994) dan merupakan salah satu kelompok populasi terbesar yang jika diestimasi jumlahnya berkisar 30% dari total penduduk Indonesia. Sebagai sebuah fase penting dalam kehidupan manusia yang ditandai terjadinya pubertas dengan mulainya pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Fase inilah memunculkan rasa ingin tahu atau keinginan untuk mencoba-coba yang berlebihan, emosi yang labil dan mulai tertarik dengan lawan jenisnya.

Dari berbagai perubahan yang terjadi pada seorang remaja, maka kita menaruh perhatian lebih pada aspek seksualitas mencangkup perkembangan organ seksual primer maupun sekunder yang dipengaruhi kinerja hormon-hormon seksual, yaitu hormon testosteron, estrogen dan progesteron. Ketiga hormon ini bersama-sama dengan kondisi umum kesehatan, faktor psikogenik dan pengalaman seksual akan membentuk perilaku seksual remaja. Sehingga tergambarlah secara sederhana mengenai perkembangan seksualitas remaja. Akan tetapi seksualitas remaja janganlah selalu didefinisikan secara mutlak dengan keharusan adanya ikatan pernikahan maupun hubungan seksual (intercourse) dengan pasangannya.

Menurut Wimpie Pangkahila (1981), sejak awal 1980-an telah terjadi perubahan persepsi dan perilaku seksualitas yang ditandai dengan meningkatnya aktifitas seksual tanpa ikatan pernikahan terutama di kalangan remaja Indonesia. Banyak penelitian lain di berbagai kota maupun desa yang mengungkapkan hal yang senada dan keadaan ini pun berlanjut terjadi hingga sekarang dan tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi di semua negara. Hal inilah yang kemudian membuka tabir munculnya kasus-kasus disfungsi seksual pada remaja dan permasalahan sosial lainnya yang terkait dengan seksualitas remaja, seperti meningkatnya insiden remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah (HSPN), kehamilan tidak diinginkan (KTD), aborsi, bahkan bunuh diri.

Ancaman Disfungsi Seksual Pada Remaja

Walaupun usianya yang belum matang tetapi remaja tidaklah luput dari kemungkinan mengalami disfungsi seksual. Disfungsi seksual berarti adanya gangguan pada proses senggama secara holistik yang meliputi gangguan dorongan seksual, gangguan bangkitan (ereksi), gangguan kepuasan (orgasme), gangguan ejakulasi khusus pada remaja laki-laki dan gangguan nyeri sanggama pada remaja perempuan. Gangguan pada salah satu komponen fungsi seksual itu dapat mengakibatkan timbulnya disfungsi seksual dan akan mempengaruhi keharmonisan dengan pasangannya.

Jika selama ini banyak yang beranggapan disfungsi seksual hanya dialami oleh orang usia lanjut, maka ada baiknya mulailah menghilangkan anggapan tersebut. Pasalnya, berdasarkan pengamatan telah banyak pasien laki-laki usia muda ditemukan dengan disfungsi ereksi yang membuktikan bahwa dewasa ini banyak laki-laki usia muda yang bermasalah dengan kesehatan seksualnya. Obrien Tendean (2006) mengungkapkan secara umum disfungsi seksual yang paling sering ditemukan pada remaja laki-laki, yaitu gangguan ejakulasi dini dan disfungsi ereksi. Sebaliknya pada remaja perempuan sering didapatkan gangguan orgasme dan nyeri pasca senggama (vaginismus dan dispareuni).

obat kuat

Hasil penelitian Senno Musacchio (2006) dari Universitas Chicago membuktikan bahwa saat ini kasus disfungsi ereksi mulai mengancam kaum muda di Amerika. Penelitian itu dilakukan pada 234 pemuda berusia 18-25 tahun yang sudah melakukan hubungan seksual secara aktif. Studi tersebut mencatat bahwa 57% pemuda setingkat sekolah menengah atas dan universitas sudah terbiasa menggunakan Phosphodiesterase-5 inhibitors (PDE-5i) yang biasanya dicampur dengan alkohol ataupun obat terlarang lainnya dan meminumnya tanpa mendiskusikan kepada dokter sebelumnya. Disebutkan pula sejumlah kondisi yang memperburuk seperti kebiasaan merokok, diabetes mellitus, dan konsumsi alkohol sebagai penyebab dari kejadian disfungsi ereksi. Selain itu, didapatkan informasi bahwa 25% remaja mengaku secara spontan kehilangan kemampuan ereksi bila mereka memakai kondom saat berhubungan seksual.

Penyebab Remaja Mengalami Gangguan Seksual

Ternyata banyak permasalahan disfungsi seksual yang terjadi pada usia muda. Banyak faktor sebagai penyebab yang secara umum dibagi dua, yakni penyebab psikologik (emosional) dan organik (biologi). Kedua penyebab tersebut dijelaskan dapat muncul secara terpisah maupun bersama-sama dengan bobot yang berbeda. Perlu diingat juga bahwa kondisi kesehatan seksual seseorang akan mempengaruhi kehidupan seksual pasangannya.

Disfungsi seksual pada remaja lebih sering disebabkan karena faktor psikis dibandingkan faktor fisik. Beberapa penyebab psikis disfungsi seksual yang sering dialami oleh usia muda dan sempat terdokumentasi dari konseling ke lembaga layanan kesehatan Klinik Remaja Kisara selama tahun 2008 didapatkan dari 551 pasangan muda di Bali bahwa tercatat rasa cemas mendominasi sebagai penyebab terutama pada kasus pasangan remaja yang belum menikah dan mengalami KTD. Kecemasan tersebut muncul akibat rasa takut apabila ketahuan oleh orang lain sudah atau sedang berhubungan seksual dan khawatir terjadinya KTD yang kemudian membuat pikiran terganggu sehingga memunculkan ejakulasi dini pada pihak laki-laki dan gangguan orgasme pada pasangan perempuan.

Ketidakmampuan mengelola perasaan stres misalnya akibat problem pekerjaan apalagi diperparah konflik dengan pasangannya akan menyebabkan bertambahnya ketegangan, kesedihan (depresi), kelelahan dan memperburuk komunikasi seksual. Berbagai stres berkontribusi juga kepada pengeluaran hormon kortisol yang memang dikenal sebagai pembunuh gairah seksual. Disusul dengan rendahnya rasa percaya diri terhadap kemampuan diri termasuk dalam hal seksualitas seperti merasa ukuran penis atau payudara yang kecil, dan buruknya pengalaman seksual terdahulu turut menentukan kejadian gangguan seksual pada remaja.

erectile dysfunction smokeBeberapa penyebab fisik yang sering ditemui dan mengakibatkan disfungsi seksual pada remaja umumnya diakibatkan gaya hidup yang buruk misalnya kebiasaan merokok, alkoholisme, penyalahgunaan narkotika, diet tidak teratur, kegemukan (obesitas), kurang berolahraga ataupun sebaliknya berlebihan beraktifitas. Dewasa ini cenderung terjadi perubahan dalam menu diet sehari-hari dan terjadi pula pada remaja sehingga lazim sekali kita mendapatkan remaja yang mengalami obesitas karena konsumsi makanan berlebihan dan minuman yang tinggi kolesterol, banyak mengandung glukosa (gula) dan malas berolahraga. Diperburuk dengan kebiasaan remaja merokok sejak dini, meminum minuman beralkohol dan penyalagunaan obat-obatan terlarang yang semuanya mengakibatkan gangguan pembuluh darah termasuk penyumbatan di pembuluh darah penis dan akhirnya perlahan-lahan menimbulkan disfungsi seksual. Selain akibat kelelahan dan adanya penyakit seperti diabetes mellitus, kolesterol tinggi, gangguan metabolik, dan pasca operasi yang dapat mengakibatkan tidak optimalnya dorongan dan fungsi seksual.

Solusi Menghadapi Disfungsi Seksual Remaja

Prinsip utama menangani pasangan remaja yang mengalami gangguan seksual, yakni semakin awal memeriksakannya, mencari penyebab sehingga menjadi semakin lebih cepat sembuh. Penanganan disfungsi seksual lebih tepat guna bila diselaraskan secara terpadu dengan usaha mengatasi penyebabnya dan dilaksanakan dengan pendekatan yang holistik.

Pada dasarnya cara mengatasi disfungsi seksual remaja laki-laki maupun perempuan adalah sama. Acapkali sebagian orang yang mengalami disfungsi seksual sudah merasakan perbaikan yang cukup hanya dengan menerima konseling seksual dari seksolog atau psikiater. Sisanya membutuhkan sex therapy sebagai suatu metode pengobatan yang memadukan komponen biomedik dan pikososial berupa hipnosis, senam seksual, specific sexual desensitization, sexual stimulation therapy, dan masturbation therapy.

Disisi lain tetap diperlukan terapi medis yang diawali dengan pemberian obat minum, kedua dengan suntikan, penggunaan alat bantu seks dan terakhir melalui intervensi operasi. Obat-obatan yang diberikan dapat berupa terapi substitusi contohnya dengan memberikan androgen pada klien defisiensi androgen. Terapi medis supresi dengan memberikan obat untuk menekan penyebab disfungsi seksual, misalnya Bromocriptine untuk klien Hyperprolactinemia. Terapi medis stimulasi untuk menstimulasi respon seksual berupa hormon, aphrodisiak, dan stimulan sistem saraf pusat.

Vasodilator dan smooth muscle relaxant adalah obat yang paling banyak dikembangkan saat ini dan dapat dipakai dengan banyak cara, dari dioleskan, diminum, intraurethra dan intracavernosa. Beberapa obat yang dapat diberikan seperti Sildenafil Sitrat, Prostaglandin E1, Phentolamine dan Apomorphine. Sedangkan cara operasi dilakukan dengan memasang prosthesis semirigid yang dapat dikembang-kempiskan agar penis mampu kembali ereksi.

Mencegah agar tidak sampai mengalami disfungsi seksual tentulah lebih baik daripada harus mengalaminya lalu terlambat mencari pengobatan. Situasi ini bisa tercapai dengan komunikasi seksual yang baik sehingga bisa mengeliminasi serangan disfungsi seksual. Karena penyebab terbanyak adalah psikologik, maka dalam penanganan awal disfungsi seksual adalah dengan mengelola rasa cemas dan stres dengan baik yang bisa diupayakan lewat membina komunikasi seksual yang baik bersama pasangan.

Satu lagi jangan pernah mencoba praktek-praktek seksual yang tidak masuk akal hanya untuk upaya semu meningkatkan potensi seksual, seperti menggunakan ramuan obat kuat, jamu, dan asesoris yang tidak jelas. Ingatlah bahwa ada resiko dari tindakan secara instan dan tidak alami seperti itu, misalnya penyuntikan silikon untuk memperbesar penis atau dengan alasan guna memaksimalkan ereksi. Metode ini justru mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan yang lebih serius seperti rusaknya penis. Sebaiknya berkonsultasi dahulu dengan tenaga ahli atau orang yang berkompeten (dokter) bila merasakan adanya masalah seksual.

Kesimpulan

Sedari dulu bila kita membicarakan permasalahan seksualitas remaja maka selalu memicu kontroversi. Ambil contoh pembahasan mengenai meningkatnya kejadian disfungsi seksual pada usia muda, sementara di benak masyarakat awam keadaan ini hanya berlaku pada mereka yang lanjut usia. Diperparah lagi bahwa kondisi bangsa kita yang relatif masih toleran terhadap praktek kedokteran yang tidak jelas. Sudah saatnya kita mulai lebih terbuka dan meninjau kembali secara ilmiah gangguan seksual pada remaja.

Khayalan erotis, rasa ingin tahu yang besar tentang seksualitas dan gairah yang muncul dalam dirinya membuat pengalaman seks datang secara dini yang bagi remaja hal itu terasa sangat menyenangkan. Tetapi selanjutnya akan muncul rasa bersalah, kecemasan dan kerumitan pikiran ketika muncul konsukuensi yang tidak diinginkan. Buruknya kondisi psikis ditambah adanya penyakit yang melatarbelakangi sebelumnya pada akhirnya akan menginisiasi munculnya disfungsi seksual pada remaja.

Ditawarkan berbagai solusi bagi remaja bila mengalami gangguan seksual, walaupun begitu tetap perlu dipertimbangkan secara bijak pilihan mana yang tepat dan sedini mungkin diobati agar mendapatkan hasil kesembuhan yang lebih baik. Sebagian besar hanya dengan konseling dibarengi edukasi, terapi seks dan perbaikan komunikasi seksual sudah cukup memberikan efek yang signifikan. Namun diingat pula untuk tidak melupakan pendekatan dari sisi medis terutama dalam kaitannya mencari penyakit yang mendasari timbulnya disfungsi seksual.

********

Daftar Pustaka

  1. Oka Negara IM. Jaga-jaga Bagi Yang Muda. Dalam : Intisari Edisi Khusus ; Healthy Sexual Life. Jakarta : Penerbit Buku Kompas Gramedia. Mei 2008. 122-126.
  2. Suhanda I, Editor. Dorseks Dan Masturbasi. Dalam : Curhat Seksualitas Remaja ; Sex, What Do U Wanna Know?. Cetakan Pertama. Jakarta : Penerbit Buku Kompas Gramedia. September 2006.
  3. Pangkahila WI. Disfungsi Ereksi. Jakarta : Yayasan Penerbit IDI. 2006.
  4. Pangkahila WI. Kehidupan Seksual. Dalam : Anti-Aging Medicine ; Memperlambat Penuaan, Meningkatkan Kualitas Hidup. Jakarta : Penerbit Buku Kompas Gramedia. November 2007. 137-192.
  5. Tendean OS, Tendean LEN. Sexual Dysfunction In Young Marriage Couple. Dalam : Buku Kumpulan Artikel Kongres Kedua Asosiasi Seksologi Indonesia Dan Simposium Internasional Pertama Kedokteran Seksual ; Better Sexual Life For Best Quality Of Life. Surabaya : Penerbit ASI. Agustus 2006. 35-38.
  6. Pangkahila WI. Teen-Age Sexual Culture. Dalam : Buku Kumpulan Artikel Kongres Kedua Asosiasi Seksologi Indonesia Dan Simposium Internasional Pertama Kedokteran Seksual ; Better Sexual Life For Best Quality Of Life. Surabaya : Penerbit ASI. Agustus 2006. 62-64.
  7. Low L. Youth And Sex. Dalam : Undestanding About Sex. England : The British Medical Association. 2006. 66-71.
  8. Pangkahila WI. Seks Yang Membahagiakan ; Menciptakan Keharmonisan Suami-Istri. Cetakan Kedua. Jakarta : Penerbit Buku Kompas Gramedia. Desember 2006.
  9. Tim Mitra Inti. Seputar Seksualitas. Dalam : Kesproholic ; A-Z Tanya Jawab Seputar Masalah Seksualitas. Jakarta : Penerbit Yayasan Mitra Inti. Juni 2008. 1-12.
  10. Tim Yayasan Kesehatan Perempuan. Bunga Rampai Seksualitas Dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Penerbit Yayasan Mitra Inti. September 2008.
  11. Kumpul Blogger. Informasi Disfungsi Ereksi. (Diakses : 14 September 2009). Diunduh dari : http://enformasi.com/2009/02/disfungsi-ereksi.html. Pebruari 2009.
  12. Dar W. Erection Problem In Teens ; Simple Ways To Solve Teenage Erection Problems. (Diakses : 14 September 2009). Diunduh dari : http://ezinearticles.com/? Erection-Problems-in-Teens—Simple-Ways-to-Solve-Teenage-Erection-Problems&id =2079347. September 2008.

6 Responses

  1. salam hangat kak pram
    hem.. serem juga yah ternyata yang muda2, bisa terkena disfungsi seksual

    Pencegahannya saya pikir Terkait lagi dengan sistem pendidikan sek untuk remaja dan anak, apakah sudah dilaksanakan dengan baik atau belum😀

    usul kak, kalau mau posting, jangan terlalu panjang yah, rada pusing bacanya😀
    saranku sebaiknya postingan kak pram dipecah menjadi beberapa posting yang agak pendek.

    Misal postingan yan gini kan terdiri dari latarbelakang, permasalahan, penyebab, solusi dan kesimpulan

    nah pokok2 postingan tsb bisa dipecah lagi menjadi beberapa postingan, (2 postingan saya kira: postingan 1 latar belakang dan permasalahan, postingan 2 solusi dan kesimpulan) biar ringanan bacanya dan info yang ditangkap pembaca menjadai lengkap( umumnya pembaca blog adalah sceamer ato pembaca cepat😀 )

    salam

    • Ha4 bagus juga usulna, namun target Sy bukanlah para screamer, coba dech dibaca dimy contact. Blog ini jg hanya Sy gunakan sebagai media menampilkan tulisan2 yg pernah Sy buat n semoga bisa menjadi sarana edukasi, tidak lebih dr itu krn anya itu yg Sy bisa bantu utk masyarakat. Sip selamet berbingung ria

  2. kesehatan sexual juga dipengaruhi oleh kesehatan tubuh dan pikiran🙂

  3. hihihihih…….malu ahhhhhhhhhhhhhh heheheh**…yah makanya jgn merokok….mulut jd bau ih,,,,,,,,,,jijay deh….

  4. merokok juga buang2 duit…….aq mau pacarku tidak merokok…hhehehe amin….(maunya tuh)

  5. astagfirullah…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: