Mengenal Tuberkulosis ; Bukan Batuk Biasa (BBB)

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih tinggi prevalensinya di dunia. Laporan WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa pada tahun 2002 tercatat ada 8,8 juta kasus TB baru dimana 3,9 juta adalah kasus dengan BTA positif. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kasus dan angka kematian tertinggi didapatkan di negara yang sedang berkembang dengan jumlah kasus terbanyak ditemukan di Asia Tenggara, yaitu 33% dari seluruh kasus TB di dunia, dengan penduduk usia produktif (20-49 tahun) sebagai korban terbanyak.

Situasi TB di dunia maupun di Indonesia pada khususnya saat ini semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak dapat disembuhkan walaupun pengobatan TB yang efektif sudah tersedia, sehingga tidaklah mengherankan apabila sampai saat ini TB tetap menjadi problem kesehatan dunia yang utama. Alasan utama munculnya atau meningkatnya beban TB global adalah :

  1. Kemiskinan pada berbagai penduduk, tidak hanya pada negara berkembang tetapi juga pada penduduk perkotaan tertentu di negara maju.
  2. Adanya perubahan demografik dengan meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur usia manusia.
  3. Perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi pada kelompok penduduk yang rentan terutama di negara-negara miskin.
  4. Tidak memadainya pendidikan TB pada tenaga medis setempat.
  5. Terlantar dan kurangnya biaya untuk obat, sarana diagnostik, dan pengawasan kasus TB, disertai deteksi dan tatalaksana kasus yang tidak adekuat.
  6. Adanya perkembangan epidemik HIV. Munculnya pandemik HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman terhadap obat anti TB (multi drug resistance =MDR) semakin menjadi masalah. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemik TB yang sulit untuk disembuhkan.

Di Indonesia, TB merupakan salah satu masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah penderita TB di Indonesia merupakan urutan ke-3 untuk tingkat prevalensi TB tertinggi di dunia setelah China dan India. Apabila jumlah kasus ketiga negara tersebut dijumlahkan maka didapatkan estimasi 10% dari total penderita TB didunia. Pada tahun 1998 diperkirakan jumlah kasus TB yang ada di Indonesia adalah sekitar 591.000 kasus dengan 266.000 kasus BTA positif. Tuberculosis sendiri masih merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia diantara penyakit menular lainnya dan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernafasan akut pada seluruh kelompok umur. Prevalensi nasional terakhir, TB paru diperkirakan sekitar 0,24%. Sampai sekarang angka kejadian tersebut relatif terlepas dari angka pandemi infeksi HIV karena masih relatif rendahnya infeksi HIV, tetapi hal ini mungkin akan bisa berubah di masa mendatang mengingat semakin meningkatnya laporan infeksi HIV dari tahun ke tahun.

Tuberkulosis didefinisikan sebagai suatu penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh kuman TB, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Penularan TB biasanya terjadi melalui inhalasi kuman basil yang terkandung dalam droplet nuclei, sehingga TB paru merupakan manifestasi klinik yang paling sering ditemui dibandingkan dengan TB pada organ tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, selaput otak, tulang, ginjal, maupun saluran kencing. Sumber penularan pada TB adalah penderita TB dengan batuk darah atau berdahak yang didapatkan mengandung basil tahan asam (BTA positif). Faktor yang memungkinkan seorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan droplet nuclei dalam udara, lamanya terpapar di udara, daya tahan tubuh seseorang, serta keadaan nutrisi. Lingkungan hidup yang sangat padat dan pemukiman perkotaan yang kurang bersih kemungkinan besar mempermudah proses penularan serta berperan serta dalam peningkatan jumlah kasus TB.

Mendiagnosis kasus TB ditetapkan berdasarkan anamnesis dalam metode wawancara, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang diagnosis berupa sputum BTA, radiologi, serta kultur dari sputum. Penderita TB biasanya diklasifikasikan berdasarkan hasil pemeriksaan sputum BTA (penderita BTA positif dan negatif) serta berdasarkan tipe penderita (kasus baru, relaps, putus obat, gagal obat, kasus kronik, dan  kasus bekas TB).

Gejala klinis TB dapat dibagi dua, yaitu gejala lokal sesuai organ yang terkena, umumnya organ paru berupa gejala respiratorik pada kasus TB paru serta gejala sistemik. Gejala respiratorik yang terjadi sangat bervariasi dari mulai tidak ada gejala gangguan pernapasan sampai yang cukup berat tergantung luas daerah lesi. Gejala respiratorik biasanya berupa batuk dari lebih atau sama dengan dua minggu, batuk darah, sesak nafas, serta nyeri dada. Sedangkan gejala sistemik (sirkulasi umum) yang muncul biasanya berupa demam subfebris (panas badan sumer-sumer), malaise (mudah lelah, kecapekan), keringat malam, anoreksia (tidak adanya keinginan makan dan minum), dan penurunan berat badan.

Pada pemeriksaan fisik biasanya ditemui konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu tubuh demam, badan kurus atau berat badan menurun. Untuk pemeriksaan fisik khusus, acapkali kelainan yang ditemukan tergantung dengan luas kelainan struktur paru yang terkena. Pemeriksaan penunjang darah kurang mendapat perhatian, karena hasilnya kadang meragukan, tidak sensitif dan tidak spesifik.

Pemeriksaan radiologis berupa rontgen dada merupakan standar pemeriksaan untuk menemukan lesi tuberculosis yang umumnya lokasinya ditemukan pada apeks paru (segmen lobus atas), tetapi dapat juga mengenai lobus bawah atau didaerah hilus yang menyerupai tumor paru. Pemeriksaan sputum adalah yang terpenting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberculosis sudah dapat ditegakkan. Disamping itu, pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan murah sehingga dapat dikerjakan di lapangan. Tetapi kadang-kadang tidak mudah untuk mendapat sputum, terutama pasien yang tidak batuk atau batuk non produktif. Cara pengambilan sputum dilakukan tiga kali dengan pembagian sewaktu, pagi, dan sewaktu.

Secara umum, pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan, dan mencegah terjadinya resistensi kuman. Prinsip pengobatan pada penyakit TB (baik TB pada paru maupun TB ekstra paru) berupa terapi farmakologis dengan dua kategori OAT (Obat Anti Tuberculosis), terapi suportif, serta terapi pembedahan. Tatalaksana pengobatan TB pada keadaan khusus, misalnya klien dengan HIV/AIDS adalah sama seperti pasien lainnya, tidak ada perbedaan dari segi efektifitas OAT dan harus selalu diingat untuk mendahulukan pengobatan TB disertai penerapan Universal Precaution. Pemberian OAT pada sebagian orang bisa menimbulkan efek samping yang dapat mengganggu proses pengobatan. Efek samping yang terjadi ringan dan berat seperti gatal, sindrom flu, mual, tidak nafsu makan, kaki kesemutan, gangguan kesimbangan, gangguan penglihatan, sampai terjadi hepatitis imbas pemberian obat.

Penyakit TB paru yang tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi dini dan lanjut. Komplikasi dini yang dapat terjadi seperti pleuritis (radang selaput pembungkus paru), efusi pleura (cairan luar paru), empiema (nanah luar paru), laringitis (infeksi tenggorokan), dengan komplikasi lanjutan berupa obstruksi jalan nafas, kerusakan parenkim, gagal nafas, korpulmonale (gagal jantung kanan), dan karsinoma paru (tumor ataupun kanker).

Penyakit TB paru adalah penyakit TB yang paling sering ditemui dan merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dan diobati, sehingga deteksi dini dan penanganan yang komprehensif sangat penting untuk mendapatkan pengobatan yang optimal. Mengingat pemberian OAT memerlukan jangka waktu yang lama serta efek samping yang bisa terjadi, edukasi terhadap penderita dan keluarganya memiliki peran penting untuk mendapatkan pengobatan yang optimal. Tak lupa bahwa aspek yang terpenting adalah pencegahan dengan menjaga kondisi kesehatan, memperbaiki hygienis pribadi dan lingkungan, mendapatkan profilaksis TB, menggunakan masker jika diperlukan dan edukasi yang berkesinambungan.

Rujukan Pustaka :

  1. Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis Paru. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. edisi keempat. Jakarta. Pusat penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. hal. 998-1003.
  2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta. 2006.
  3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. edisi kedua. Jakarta. 2006.
  4. http://www.who.int/topics/tuberculosis/en/
  5. http://www.who.int/tb/challenges/hiv/en/index.html
  6. http://en.wikipedia.org/wiki/Tuberculosis
  7. http://whqlibdoc.who.int/hq/1996/WHO_TB_96.200_SEA.pdf
  8. http://www.stoptb.org/events/world_tb_day/2009/

*Bahan Ini Disampaikan Pada Diskusi Bulanan Yakita, 21 Nopember 2009

********


2 Responses

  1. Belakangan ini malah jadi seperti emerging disease, entah bagaimana ke depannya. Apa karena lingkungan yang semakin rusak? Atau karena belum efektifnya penanganan yang ada saat ini.

    • Bener bg ada fenomena unit dgn boomingnya emerging disease disertai bangkitnya re-emerging disease….penyebab yg utama krn manusia itu sendiri yg merusak lingkungannya….Rusaknya keseimbangan segitiga Bluum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: