“Beautiful Mind” ; Indahnya Pikiran Seorang Manusia

“Beautiful Mind” yang jika Kita artikan dalam bahasa Indonesia berarti “Indahnya Pikiran”, sebuah film dengan banyak penghargaan, sangat bagus, ditinjau dari aktor, alur maupun pesan yang tersirat di dalam isi ceritanya.  Walau dari segi umur, karya ini sudah cukup berumur, namun rasanya patut untuk Kita mengenangnya, tonton kembali dan mengambil intisarinya. Dengan keterbatasan (penyakit) yang dideritanya, John Nash yang di bintangi Russel Crow, mampu bertahan dan berjuang melawannya tanpa bantuan obat-obatan antipsikotik dengan hanya berusaha menghindar dan membedakan fantasi-fantasinya. Di sini tergambar perjuangan seorang manusia schizofrenia dalam melawan gejala-gejala negatif yang sangat mengganggu hidupnya.

Kesabaran dan cinta yang tulus dari Alicia sebagai seorang istri, mampu memahami dan menemani John dikala ia sedang berusaha membebaskan dirinya dari halusinasinya. Hal ini merupakan contoh yang sangat baik bagi keluarga-keluarga lain yang mungkin mengalami kondisi yang sama. Disarikan bahwa segala sesuatu permasalahan yang ada dalam hidup ini dapat dihadapi dengan akal sehat, cinta dan kesabaran. Penghargaan Panitia Nobel untuk menganugerahi prestasi gemilang John di masa lampau merupakan mukjizat yang seolah-olah kemudian mengembalikan dunia kepadanya. Sebagai bukti agar menghargai sesama manusia, walaupun terdapat keterbatasan bahkan masih dalam keadaan terganggu jiwanya sekalipun.

Dikisahkan, John Nash Jr. seorang mahasiswa pasca sarjana jurusan matematika di Universitas Princeton yang tergolong pintar bahkan sangat jenius, cemerlang, bandel, menyebalkan, sekaligus sangat eksentrik (anti sosial), namun menerima Carnegie Prize, sebuah penghargaan bergensi bidang matematika.

Di Princeton inilah berawal segala keanehan pada diri John. John memiliki seorang teman sekamar yang tidak nyata bernama Charles Sheerman yang kemudian menjadi sobat karibnya, padahal satu kamar di Princeton hanya diperuntukkan untuk seorang mahasiswa saja. Charles mengaku dirinya adalah mahasiswa jurusan sastra yang tinggal di kota bersama seorang keponakannya bernama Marchee. D luar itu, Nash pun berkenalan dengan Martin, Sol, Ainsley dan Bender yang selanjutnya menjadi grup gengnya.

Charles yang selalu bersama John disaat susah, selalu memberi semangat dan menyatakan John sebagai mahasiswa Princeton terbaik. Walaupun begitu, John selalu tertekan bila mengalami kegagalan ataupun kekalahan terutama dari rekan satu tim belajarnya dan adanya kenyataan ketidakmampuan atau ketidaksuksesan dirinya dalam mengadakan pembicaraan dengan seorang gadis (mahasiswi).  Walaupun demikian kondisi penolakan dari berbagai mahasiswi tersebut memberikan hikmah bagi John hingga Ia mampu menyelesaikan tesisnya tentang konsep pemerintahan yang dinamik dalam teori matematika ekonomi dengan sangat baik.

Setelah menyelesaikan studinya di Princeton, Ia kemudian bekerja sebagai profesor (dosen) program pascasarjana di Institut Teknologi Massachusetts (ITM) bersama kedua temannya, Sol dan Bender. Lima tahun mengajar Kalkulus di ITM, John bertemu dengan Alicia Larde, seorang mahasiswi jurusan fisika. Alicia sering berkunjung keruangan kerja John untuk sekedar mendiskusikan permasalahan kuliah, sehingga lambat laun mereka pun saling jatuh cinta dan kemudian menikah hingga memiliki seorang putra.

Beberapa tahun kemudian, John kembali ke Princeton dan kembali bertemu Charles beserta Marchee. Akan tetapi, saat itu Ia juga bertemu dengan agen misterius dari departemen pertahanan bernama William Parcher. Kemudian atas bujukan Parcher, John bergabung dengan departemen pertahanan Amerika di Pentagon yang bertugas untuk memecahkan kode-kode komunikasi rahasia dalam majalah dari pihak lawan, yaitu Uni Soviet. John harus merahasiakan kegiatannya dan rutin melaporkan kode-kode temuannya yang dikirimkan pada kotak surat spesifik secara rutin.

Suatu saat, John berhalusinasi bahwa dirinya diketahui oleh pihak Rusia dan terlibat dalam baku tembak, sehingga John pun menjadi semakin bersifat paranoid dan mulai bersikap aneh. Sikap tersebut kemudian diketahui oleh Alicia, dan saat sedang mengajar di Universitas Harvard, istrinya mengirimkannya seorang Psikiater bernama dr.Rosen untuk menangkap dan menyembuhkan dirinya dari Schizofrenia Paranoid di rumah sakit jiwa. Namun Ia pun mencoba melarikan diri, yang selanjutnya berhasil ditangkap dan diberikan suntikan sedatif.

Saat di rumah sakit, Ia diinterogasi oleh dr.Rosen yang kemudian terungkap bahwa John berhalusinasi menyakini dirinya bekerja pada departemen pertahanan sebagai pemecah kode Uni Soviet dan mengenal tokoh-tokoh fiktif ; Charles, Marchee dan Parcher.  Faktanya situasi (gejala) tersebut merupakan sebuah delusi (waham) sebagai produk dari pikiran John.  Alicia juga mencoba membuktikannya, dimana keseluruhan cerita John ternyata hanya khayalannya saja.

Setelah mendapatkan satu kali sesi terapi syok insulin, John pun terlihat kembali normal dan setuju untuk menjalankan pengobatan antipsikotik seumur hidup. Kenyataannya, obat-obatan tersebut memiliki efek negatif berupa penurunan intelektualitas hingga Ia mengalami disfungsi seksual yang akibatnya mengecewakan Alicia. Akibat kefrustasian itu, John sembunyi-sembunyi menghentikan meminum pil antipsikotik hingga mengalami kekambuhan psikosis kembali dengan kemunculan kembali Charles, Marchee dan Parcher beserta misi-misinya.

Hingga kemudian Alicia mengetahuinya dan saat John lengah memandikan putranya. Alicia menemukan gubuk di hutan belakang rumah yang dijadikan markas John dan bergegas menuju rumah, yang lalu menemui bayi putranya hampir tenggelam, terendam air di bak mandi karena John sibuk dengan tugas rahasianya kembali dan diakui oleh John bahwa Charles sudah mengawasi putranya.

Alicia pun segera berniat menelepon dr.Rosen dan mengirimkannya kembali ke rumah sakit jiwa. Maka terjadilah perdebatan antara John dan Alicia yang ditambah munculnya Parcher yang menasehati John untuk membunuh Alicia. John pun menolak perintah Parcher dan mendorong istrinya menghindar dari tembakan Parcher. Alicia pun marah dan ingin pergi dari rumah, tetapi John menghalang-halanginya dan berusaha mengatakan dirinya telah sadar dengan mengatakan bahwa semua itu benar hanyalah halusinasi visual-auditorik pada dirinya dimana dibuktikan dari Marchee yang tidak pernah dewasa.

Selanjutnya, John dan Alicia memutuskan untuk hidup bersama dengan kondisi abnormal itu tanpa perlindungan obat antipsikotik, dimana John mengatakan perpisahan kepada Charles, Marchee dan Parcher. Namun tetap saja ketiganya muncul mengganggu John hingga tidak mampu beraktifitas normal baik sebagai seorang suami maupun dosen di Princeton dan cenderung mengurung dirinya dalam rumah.

Keajaiban pun terjadi saat usia John menjelang 60 tahun, dimana gejala Schizofrenia Paranoid-nya pada akhirnya dapat dikendalikan dan cenderung semakin berkurang episode kambuhnya. Ia pun dapat kembali bekerja di departemen matematika Princeton atas bantuan sobat sekaligus rivalnya terdahulu, Martin yang menjabat sebagai dekan jurusan tersebut.

John yang merupakan seorang profesor matematika kemudian dianugerahi memenangi hadiah Nobel dalam bidang ekonomi atas teori permainan matematika ekonominya. Anugerah tersebut diberikan pada tahun 1994 di Stockholm dan hal ini sebagai pembuktian bagi John bahwa dia mampu mengatasi pengaruh buruk ketiga orang khayalannya itu hingga terbebas dari belenggu penyakit Schizofrenia dengan kekuatan mentalnya. Sebuah sinopsis singkat untuk sebuah karya film yang luar biasa kaya akan sisi nilai kemanusiaan.

********

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: