Berbagi Konsep Pacaran Sehat Remaja Ala KISARA

€”LOVE VERSUS SEX?!”

dr. I G.N. PRAMESEMARA, S.Ked

 Koordinator Klinik Remaja Kisara (Kisara Youth Clinic)

Bagian Andrologi Dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

FAKTA REMAJA (PENGALAMAN RELAWAN KISARA)

Sayang, kalo kamu memang cinta aku, ayo buktikan dengan ML (Making Love)!, sebuah ungkapan yang kini dianggap lumrah untuk diucapkan kalangan remaja saat ini yang mengandung sinyal untuk menunjukkan rasa cinta mereka dengan melakukan hubungan seksual (HUS) secara dini. Remaja laki-laki dengan ego seringkali memaksakan hal tersebut, tetapi dilain pihak ternyata pacar perempuannya tersudut harus membuktikan cinta dengan menyerahkan keperawanannya. Perilaku pacaran yang tidak sehat pada remaja umumnya terjadi tidak direncanakan dan memunculkan fenomena hubungan seksual pranikah (HSPN).

Menyikapi sepenggal contoh dialog pasangan remaja diatas terlihat adanya kekurang pahaman dari remaja Kita dalam mengartikan makna ”Pacaran Sehat”. Bahkan banyak remaja lainnya yang masih kabur pemahamannya tentang pengertian cinta dan seks. Kasus-kasus seperti itu bukanlah topik permasalahan remaja yang baru ataupun langka jumlahnya. Lebih dari seperempat kasus dari total jumlah konseling KISARA baik yang masuk melalui telepon, surat, email, dan tatap muka adalah kasus pacaran remaja yang berkaitan dengan aktifitas seksual dini.

Tidak sedikit konsukuensi yang harus diterima oleh remaja jika dihadapkan dengan kenyataan seperti itu terutama remaja perempuan yang hampir selalu menjadi korban. Sebagian mampu mengatasinya dengan berulang kali memberikan pengertian mendalam kepada sang pacar, walau selalu dihantui kemungkinan buruk Broken Heart (putus cinta). Namun sebagian lagi tidak kuasa hingga memenuhi keinginan pacar karena alasan klasik, seperti Saya takut diputus, Saya percaya, Saya cinta mati, Nyoba-coba, etc…..Ngombal. Pada akhirnya tergolonglah mereka kedalam kelompok remaja yang seksual aktif, karena telah melakukan HSPN, Petting, Oral Sex, Anal Sex, sampai akhirnya Bunting (Hamil) dan Ngeling (menangis dalam bahasa Bali). Lebih menyedihkan lagi bagi remaja perempuan, mereka seringkali ditinggalkan begitu saja oleh pasangan laki-lakinya justru setelah dinodai atau hamil. Inilah bukti otentik bahwa kata SETIA dan BERTANGGUNG JAWAB masih terlalu mahal harganya pada remaja Kita.

75% hubungan seksual sebelum nikah terjadi secara tdk direncanakan, tetapi krn adanya kesempatan (KISARA, 2003)

Dua dari Sepuluh Remaja Bali sudah Aktif secara Seksual (2009) 

            Pengalaman Penulis sebagai seorang relawan remaja KISARA PKBI Provinsi Bali bahwa selama satu dekade ini hal-hal berbau problema seksualitas remaja , aktifitas pacaran, dan sejenisnya mendominasi kasus konseling  sekitar 60% dari total kasusbaik berkaitan dengan aktifitas seksual ataupun tidak. Parahnya terdapat kecenderungan mereka baru akan berkonsultasi setelah melakukan aktifitas seksual secara aktif atau apabila sudah mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini dibuktikan dengan laporan Klinik Remaja Kisara (Kisara Youth Clinic) bahwa selama tahun 2009 didapatkan 630 kunjungan pasangan remaja yang datang berkonsultasi dan mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD).

— Remaja (10-24 thn) pertama kali HUS ; 19-24 thn (62%), 13-19 thn (37%) & 10-13 thn (1%). — Tempat HUS remaja pertama kali ; Rumah sendiri/pacar (67%), Kost (21%) & lainnya (12%). — Alasan HUS remaja pertama kali ; Sama2 suka (74%), Ingin tahu/Coba2 (11%) & lainnya (15%).(Mangku, 2003)

DINAMIKA REMAJA (SUPLEMEN MASA TRANSISI)

Mengapa Remaja yang mengalami hal ini, ada apa dengan Remaja?”. Masa remaja merupakan suatu fase transisi perkembangan manusia diantara masa kanak-kanak dan masa dewasa dengan rentang usia 10-24 tahun (WHO). Dalam periode ini terjadi perubahan yang sangat pesat dalam kehidupan seorang manusia yang meliputi perubahan dalam dimensi fisik, psikis dan sosial. Populasi transisi yang berpotensi ini diperkirakan merupakan golongan penghuni terbesar di Bumi dimana diperkirakan hampir 40% dari penduduk dunia. Fase Remaja adalah suatu masa kritis, periode pencarian identitas diri, sehingga remaja sangat sensitif terhadap keadaan lingkungan sekitarnya.

“Apa yang terjadi dengan Remaja?” :

1. Pertumbuhan Dan Perkembangan Fisik terutama Organ Reproduksi dan Seksual (Pubertas).

 2. Perkembangan Psikologis (Mental) ; Ingin tahu (coba-coba) yang besar, Kritis terhadap orang tua, Menuntut keadilan, Self-Esteem, Mandiri, Berpikiran abstrak, Mulai menyukai lawan jenis, munculnya libido, Labil dan Sensitif, Mobile dan aktif, dan Penuh gejolak.

 3. Perkembangan Sosial ; Persepsi Agama, Ikatan sebaya yang kuat, GAUL dan trendy, Terbuka Dan Menyanjung kebebasan, Perubahan norma-norma dan gaya hidup, mengikuti kemajuan IPTEK, Dinamika Ekonomi, Terpapar Mitos-mitos, Kriminalitas, Miras, dan penyalahgunaan narkotika. 

          “Generasi masa depan adalah Kami (Next Generation Is Us)”, begitulah kaum remaja lazim dengan bangga menyebut identitasnya, dan mereka komunitas yang sangat aktif. Umumnya proses pematangan fisik lebih cepat dan dominan pengaruhnya. Remaja dengan rasa ingin tahunya yang besar, sangat menyukai sekali berpetualang dan bereksperimen, serta bersosialisasi berwujud ikatan sebaya yang kuat untuk mencari jati dirinya. Sehingga seringkali menyebabkan remaja menjadi sensitif, rawan terhadap stress dan bahkan mudah terjerumus ke arah negatif.

Berbagai temuan negatif dalam perkembangan, dan pertumbuhan yang dialami oleh seorang remaja saat ini, maka tidaklah mengherankan apabila komunitas yang satu ini sering goyah hingga menjadi susah untuk diarahkan. Terutama risiko-risko yang muncul berkaitan dengan fenomena pacaran remaja yang tidak sehat, dan perilaku hubungan seksual yang bebas diantara mereka.

KONSEP PACARAN SEHAT (KIAT KISARA)

Berdasarkan realita yang telah diuraikan sebelumnya, tampak sekali belum dipahaminya Konsep Pacaran Sehat dan Pengertian Cinta Dan Seks secara benar oleh kaum remaja. Atau mungkin dalam hal ini remaja masih dikacaukan oleh nafsu sesaat guna mendapatkan apa yang diinginkan terutama kenikmatan seksual tanpa memikirkannya lebih jauh risiko-risiko yang mungkin muncul. Cinta dan Seks adalah dua sisi yang sangat kontras berbeda, jelaslah tidak bisa disamakan dengan seenaknya saja•.

Cinta adalah bentuk perasaan kasih-sayang terhadap orang lain yang didasari kejujuran, kesetiaan, kemuliaan hati dan kesadaran untuk bertanggung jawab. Sedangkan Seks yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah jenis kelamin, maka dalam konteks ini berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan alat reproduksi terutama berupa aktifitas yang timbul lebih banyak karena dorongan nafsu biologis. Sehingga membuktikan cinta dengan seks tentu saja memunculkan risiko-risiko. Namun sebaliknya, jikalau remaja mampu memandang seks atas dasar cinta, maka dengan sendirinya tercipta pola pikir yang holistik penuh dengan tanggung jawab, dan sudah seharusnya menempatkan cinta dalam berpacaran sebagai sesuatu yang sehat dan sakral.

Oleh karena itu, untuk membantu remaja dalam mengatasi permasalahan dalam berpacaran secara mandiri dan bertanggung jawab. Maka sekiranya perlu diamalkan kiat-kiat Pacaran Sehat ala KISARA sebagai upaya preventif yang sederhana dan bekal yang tepat bagi remaja dalam mengarungi masa pacarannya. Konsep Pacaran Sehat dari KISARA merupakan sekumpulan tips-tips pacaran yang dilandasi proses cinta dimana dimensi fisik, psikis dan sosial remaja dalam keadaan baik. Tidak hanya sehat seksual, tetapi juga sehat rohani dan sehat mental.

PACARAN ; P-erlu persiapan, A-malkan nasehat Orang tua, C-inta Monyet (sadari), A-kan terjadi putus pacar, R-ayuan gombal jangan terjebak, A-man untuk Kespro, N-orma-norma selalu diperhatikan

SEHAT ; S-elalu ingat batas2, E-nak dipandang lingkungan, H-ubungan pertemanan tetap baik, A-mpuh memacu prestasi, T-idak merugikan siapapun

           KISARA juga menyebarkan paham Pacaran Pas-Foto sebagai alternatif  menerjemahkan gaya pacaran sehat untuk Remaja. Pacaran Pas-Foto adalah konsep yang menunjukkan zona area fisik (tubuh) yang diperkenankan dalam masa pacaran remaja, yaitu hanya dari kepala hingga leher, layaknya gambaran Pas-foto pada umumnya.

Selain itu, KISARA mengembangkan pendekatan ABCDE yang merupakan suatu konsep remaja sehat yang sudah diadopsi secara internasional. A-bstinentia ; sebisa mungkin dan seharusnya remaja tidak melakukan HUS sebelum menikah. B-e faithful ; tidak dipungkiri adanya remaja yang telah seksual aktif, guna menghindari resiko penularan IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immunodeficiency Syndrome), maka dianjurkan remaja untuk selalu setia pada satu pasangannya. C-ondom ; wajib hukumnya bagi remaja dengan aktifitas seksual bebas yang bertukar pasangan dan berisiko terjadinya kehamilan maupun penularan IMS dan HIV-AIDS. D-on’t inject atau D-rugs ; hindarilah menggunakan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya) terutama narkotika suntik, karena sangat berisiko terhadap transmisi HIV-AIDS. Dan E-ducation ; carilah narasumber, dan informasi-informasi remaja yang tepat.

At Last….pesan terakhir bagi rekan-rekan remaja Bali. Arahkan dorongan seksual yang sesaat menjadi aktifitas-aktifitas lain yang tidak beresiko, jadilah remaja yang bertanggung jawab. Salurkan bakat-minat semaksimal mungkin hingga menemukan jati diri menuju kedewasaan pribadi.

********

Simak, pahami dan amalkanlah informasi ini, niscaya akan sangat berguna.

Tolong bagi-bagi dan sebarkan informasi ini ke rekan-rekan remaja lainnya!

2 Responses

  1. saya sangat suka dengan artikel di atas… thnks for sharing yakk…

    emm.. kk.. btw.. kita tukeran link yuk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: