KesProSeks Remaja

KESEHATAN REPRODUKSI DAN SEKSUALITAS REMAJA

– Rangkuman Pustaka Dan Berbagi Informasi Essensial Pedampingan Remaja –

Masa Remaja Dan Permasalahannya

Saat ini menjadi seorang remaja adalah menyenangkan sekaligus episode kehidupan yang cukup berat untuk dilalui, yang notabene merupakan fase peralihan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Para remaja selalu dituntut menjadi putra-putri yang baik, rajin belajar, dan ditambah lagi tugas-tugas lain yang harus dikerjakan. Di sisi lain remaja harus menjadi sosok yang gaul, mengikuti trend dan mode gaya hidup agar dapat diterima teman sebayanya. Apakah Anda yakin, rekan remaja kita sudah mampu membagi perhatian agar kedua sisi diatas dapat berjalan seimbang?.

Jumlah remaja berusia 10-24  tahun mencapai 65 juta jiwa, 30% dari total penduduk Indonesia.

Sekitar 15-20% dari remaja usia sekolah di Indonesia sudah aktif melakukan hubungan seksual.

Hingga Juni 2006 tercatat 6332 kasus AIDS dan 4527 kasus HIV (+) di Indonesia, 78,8% pada usia 15-29 tahun.

Estimasi BKKBN tahun 2006 terdapat 18.582 Kasus Pasangan KTD di Bali.

Pada Maret 2010, Total 630 klien pasangan remaja dengan KTD datang berkonsultasi ke KYC.

Diperkirakan sekitar 15 juta perempuan usia 15-19 tahun telah melahirkan setiap tahunnya.

Setiap tahun ada 2,3 juta aborsi di Indonesia, sekitar 20% adalah remaja.

 

Tentunya ada hal wajib yang harus dimiliki kaum remaja agar tetap eksis dan mampu menjalani masa remaja yang indah. Bekal diri yang wajib kaum remaja miliki salah satunya adalah pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. Masih banyak remaja belum memahami sehingga terjerumus ke dalam berbagai permasalahan. Akibat ketidakpahaman itu, remaja menjadi kurang mampu mengontrol dorongan seksual, kemudian melakukan hubungan seksual secara dini sebelum waktunya. Selain menyebabkan kehamilan pada usia yang sangat muda dan tidak diinginkan, tidak dipungkiri kemungkinan terkena infeksi menular seksual (IMS) termasuk HIV-AIDS.

Perilaku Seksual Berisiko Remaja

Lebih dari seperempat konseling masalah pacaran yang masuk via telepon KISARA-430200 hingga Juli 2005 berkaitan dengan perilaku seksual remaja dan terdapat kecenderungan baru berkonsultasi setelah melakukan aktifitas seksual secara aktif. Awal keterlibatan remaja dalam hubungan seksual pra-nikah (HSPN) disebutkan sebagian besar karena alasan coba-coba, terbawa suasana dan muncul dorongan seksual akibat pengaruh dari media-media pornografi yang pernah diakses. Survei KISARA tahun 2004 mendapatkan fakta bahwa hampir 60 % remaja SMP dan SMA di Bali telah melihat media-media yang memuat konten pornografi baik berasal dari situs-situs internet, VCD/DVD ataupun buku (komik) porno lainnya.

Realita di atas baru salah satu contoh kecil dari berbagai permasalahan remaja yang berkaitan dengan perilaku seksual. Kasus-kasus kekerasan seksual yang menimbulkan trauma (pemerkosaan), kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja, pengguguran kandungan (aborsi) secara illegal, pernikahan dini pasangan remaja, berhubungan seksual secara bebas dengan banyak pasangan dan tanpa menggunakan kontrasepsi pengaman, semakin tinggi insiden IMS dan HIV-AIDS, maraknya praktek prostitusi remaja, peningkatan kasus disfungsi seksual dan parafilia pada usia muda, serta berbagai perilaku seksual kaum remaja yang menyimpang lainnya menimbulkan banyak risiko kesehatan dan efek sosial yang negatif.

Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja

Jika membahas mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja, hendaknya juga mengangkat isu-isu lain yang terkait, seperti organ-organ reproduksi (primer dan sekunder), gender, pubertas, kehamilan, kontrasepsi, IMS dan HIV-AIDS hingga penyalahgunaan NAPZA.

Kesehatan reproduksi adalah semua keadaan sehat baik secara fisik, mental, maupun sosial berkaitan dengan sistem reproduksi yang terdiri dari organ-organ reproduksi dan fungsinya (WHO). Sedangkan seksualitas adalah segala sesuatu yang menyangkut hidup manusia sebagai mahluk seksual, yaitu emosi, perasaan, kepribadian, dan sikap yang berkaitan dengan perilaku, orientasi dan problem seksual.

Sekelumit Organ Reproduksi Laki-laki Dan Perempuan

Secara garis besar alat reproduksi perempuan dibagi menjadi dua bagian, yakni organ genitalia eksterna dan genitalia interna. Adapun yang termasuk organ genitalia eksterna pada perempuan beserta fungsinya adalah :

  1. Mulut Vagina (Labia) yang terdiri dari masing-masing sepasang Labia Mayora dan Labia Minora yang melindungi  lubang kemaluan (Vagina) dari lingkungan luar tubuh.
  2. Bibir Vagina (Vulva) merupakan bagian awal dari rongga Vagina yang menghubungkan rahim (Uterus) dengan lingkungan luar tubuh. Vulva dibentuk oleh Klitoris (Kelentit), yaitu sebuah benjolan daging berukuran kecil yang sangat peka terhadap rangsangan taktil atau seksual karena banyak mengandung pembuluh darah dan ujung syaraf sensoris. Tepat di depan Vagina terdapat bagian Vulva, yakni selaput dara (Hymen) berupa lapisan tipis yang tidak mengandung pembuluh darah.
  3. Liang senggama (Vagina) adalah saluran berbentuk silinder, berdiameter 6-7 cm, panjang 9-10 cm, berdinding kasar dan berlipat-lipat yang bersifat elastis. Berfungsi sebagai tempat penis berada ketika bersenggama, menampung cairan ejakulat, saluran untuk keluarnya menstruasi dan jalan persalinan bayi.

Organ-organ genitalia interna pada perempuan dengan fungsinya sebagai berikut :

  1. Leher rahim (Serviks) ialah bagian terbawah dan terluar dari rahim (Uterus) perempuan yang memproteksi organ-organ reproduksi yang lebih dalam, dan pembatas penetrasi  penis ketika melakukan senggama.
  2. Rahim (Uterus) sebagai tempat berkembangnya janin dan sumber perdarahan ketika perempuan mengalami menstruasi. Berupa ruangan berongga yang dilindungi oleh tiga lapis otot (endometrium, miometrium dan parametrium), banyak pembuluh darah, dan selaput lendir. Saat perempuan tidak hamil, bentuknya seperti buah alpukat yang gepeng dengan berat sekitar 30-50 gram.
  3. Saluran telur (Tuba Fallopi) merupakan tempat berjalannya sel telur (Ovum) setelah keluar dari ovarium (ovulasi) dan pembuahan (Konsepsi atau Fertilisasi) saat spermatozoa bertemu dengan ovum. Jumlah sepasang di kiri dan kanan uterus, dan ujung lateral membentuk umbai-umbai (Fimbrae) guna menangkap ovum hasil ovulasi.
  4. Indung telur (Ovarium) adalah sepasang organ di kiri dan kanan fimbrae yang mengeluarkan sel telur (ovum) secara periodik dan bergiliran, serta sebagai penghasil dua hormon utama bagi perempuan ; Estrogen dan Progesteron.

Rincian beberapa organ genitalia pada laki-laki yang penting untuk dibahas antara lain :

  1. Batang kelamin (Penis) merupakan organ erektil yang tersusun dari banyak pembuluh darah dan tergantung di depan skrotum. Berperan sebagai alat penetrasi ke dalam vagina (Kopulasi) sekaligus saluran untuk mengeluarkan ejakulat dan air seni. Bagian depan penis disebut Glands (kepala penis) yang ditutupi oleh kulit tipis (Preputium atau Foreskin) tempat berakhirnya ujung syaraf-syaraf sensoris.
  2. Uretra, yakni tabung di dalam penis dengan panjang 23-25 cm sebagai saluran pengeluaran air mani (ejakulat) dari vesika seminalis dan air seni (kencing) dari buli-buli (Vesika Urinaria) melalui proses miksi.
  3. Kelenjar Prostat menghasilkan sejumlah komponen pembentuk cairan mani (Semen) yang mempengaruhi kualitas spermatozoa, seperti asam sitrat dan enzim-enzim lainnya.
  4. Vesika Seminalis adalah struktur kantong yang berperan sebagai penampung cairan semen sebelum diejakulasikan dan layaknya prostat turut pula mempengaruhi kesuburan laki-laki dengan memproduksi nutrisi utama sel sperma ; fruktosa.
  5. Saluran spermatozoa (Vas Deferens) ialah tabung kecil berukuran hingga 45 meter sebagai penyalur sel sperma dari epididimis hingga uretra posterior.
  6. Epididimis, yaitu saluran reproduksi yang terletak tepat di atas testis, tersusun membentuk bangunan menyerupai topi, dan bertugas sebagai tempat maturasi sel sperma.
  7. Testis (buah zakar atau pelir), yakni organ reproduksi primer pada laki-laki yang berwujud oval, berfungsi sebagai penghasil hormon Testosteron dan spermatozoa. Kedua testes terlindungi oleh Skrotum berupa kantung kulit yang menggantung, berwarna gelap, dan berlipat-lipat. Skrotum mengandung sejumlah otot polos yang mampu mengatur jarak testis dari dinding perut, sehingga suhu testis relatif stabil dan lebih rendah daripada suhu tubuh agar spermatogenesis dapat berjalan ideal.

Momen Pubertas Para Remaja

Pubertas adalah masa ketika fisik dan psikis manusia mengalami perubahan (perkembangan dan pertumbuhan) besar-besaran dari kondisi kanak-kanak menjadi dewasa. Proses pubertas terutama akan ditandai dengan kematangan dari organ reproduksi primer termasuk mengalami perkembangan organ-organ seksual sekunder, dan pertumbuhan fisik yang cepat.

Awal dimulainya masa pubertas pada laki-laki di antara umur 13-14 tahun, lebih lambat dari masa pubertas anak perempuan yang sudah dimulai saat usia 11-12 tahun. Momen tersebut baik pada laki-laki maupun perempuan akan berakhir sekitar umur 17-18 tahun, namun hal ini tidaklah mutlak karena kondisi tubuh masing-masing individu berbeda. Saat ini acapkali ditemukan kasus baik pada remaja laki-laki dan perempuan yang mengalami masa pubertas yang lebih dini (pubertas prekoks), lebih cepat berakhir, tidak komplit maupun terlambat.

Hormon estrogen dan progesteron mulai berperan aktif ketika remaja perempuan memasuki fase pubertas. Sehingga secara berurutan akan tampak perkembangan dari payudara (Telarche), pertumbuhan rambut pubis halus di sekitar kemaluan dan ketiak (Pubarche), dan diakhiri menstruasi untuk pertama kali (Menarche) untuk kemudian dialami periodik. Di samping itu, muncul pula beberapa perubahan, misalnya pada panggul dan pantat yang semakin melebar dan membesar, tumbuh jerawat pada wajah, dan bertambahnya komposisi lemak tubuh.

Sama halnya yang terjadi pada remaja laki-laki, maka hormon testosteron akan mengambil peran utama dalam pubertas. Akibatnya muncul beberapa perubahan pada sosok remaja laki-laki, antara lain penis yang membesar dan bertambah panjang, tumbuh rambut-rambut halus di sekitar kelamin dan bagian tubuh lainnya (dada, ketiak, kumis, dan jenggot pada wajah), penonjolan jakun, perubahan suara menjadi lebih berat, keringat bertambah banyak dan berbau, dan tentu saja mulai diproduksi spermatozoa hingga pada waktu-waktu tertentu akan keluar yang mana peristiwa ini dikenal dengan istilah mimpi basah.

Konsep Infeksi Menular Seksual

Infeksi Menular Seksual (IMS) berarti berbagai penyakit yang dapat ditularkan melalui aktifitas atau hubungan seksual yang tidak aman dan bergonta-ganti pasangan. Sebelum dikenal dengan istilah IMS, dahulunya jenis permasalahan kesehatan yang serius ini seringkali disebut Penyakit Menular Seksual (PMS) dan Penyakit Kelamin. Secara umum kasus-kasus IMS yang sering ditemui khususnya di Indonesia, antara lain Uretritis Gonore (G.O., Kencing Nanah, Blenore), Sifilis (Raja Singa), Klamidiasis, Bakterial Vaginosis, Ulkus Mole (Chancroid, Bubo), Trikomoniasis, Herpes Genitalis, Condiloma Akuminata (Jengger Ayam, Kutil Kelamin),  Hepatitis B, Kutu Pubis (Phthirus Pubis) hingga epidemi HIV-AIDS yang menjadi pusat perhatian dewasa ini.

Semua individu berisiko tertular, dan dengan mengidap IMS sebelumnya akan meningkatkan peluang untuk terinfeksi HIV-AIDS (Human Immunodeficiency VirusAcquired Immunodeficiency Syndrome) hingga 10-15 kali. Walaupun dalam beberapa literatur ilmiah disebutkan bahwa kaum perempuan lebih rentan terinfeksi IMS karena bentuk dan sifat khas dari organ seksualnya. Sebagian besar kasus IMS terjadi pada kelompok usia 15-29 tahun dengan perkiraan hampir tujuh dari sepuluh pasien IMS tergolong usia 15-24 tahun. Namun kenyataannya terdapat pula kelompok lain diluar penularan lewat kontak seksual, misalnya bayi yang tertular dari ibu yang mengidap IMS.

Umumnya gejala-gejala dari IMS tidak terlihat dengan mudah dan membutuhkan waktu untuk menimbulkan keluhan (masa inkubasi). Kondisi ini yang kemudian mengakibatkan banyak klien tidak menyadari dirinya telah mengidap IMS. Secara sederhana keberadaan IMS dapat diidentifikasi dari munculnya tiga tanda khas ; rasa gatal, nyeri dan panas di sekitar alat kelamin ataupun ketika buang air kecil ; terkadang mengeluarkan cairan tidak normal yang berbau, jumlah banyak, berwarna, dan bercampur dengan darah (keputihan patologis) ; tumbuh bintil-bintil, benjolan, pembengkakkan kelenjar, dan luka di sekitar kelamin hingga daerah lipatan paha.

Semakin terbuka akses mengenai seksualitas termasuk yang berkategori pornografi dari berbagai media, tingkat permisifitas hubungan antar personal yang cenderung melonggar, nilai-nilai cinta dan seksualitas yang semakin kabur, kontrol keluarga dan masyarakat yang rendah, banyak mitos yang berkembang, pemahaman kurang terhadap akibat buruk dari perilaku seksual yang tidak bertanggungjawab, masih sedikit akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang tepat, dan ketidakmampuan dalam menegosiasikan praktek-praktek seksual yang aman merupakan faktor-faktor yang memungkinkan peningkatan IMS di kalangan remaja.

IMS bukanlah penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Apabila terlambat diobati bisa menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih parah dan menjadi semakin sulit disembuhkan. Hal-hal buruk lainnya, kemungkinan menularkan pada pasangan seksual atau dari ibu hamil pada janinnya, hingga kondisi yang terburuk mengakibatkan kemandulan bahkan kematian. Oleh karena itu, sangat diperlukan pemahaman yang baik mengenai IMS agar mampu mencegah penyebarannya. Segeralah memeriksakan diri ke praktek Dokter yang terdekat jika terdapat keluhan IMS untuk memperoleh pengobatan yang tepat dan berujung kesembuhan.

Jangan Bosan Mengedukasi Remaja!

Berangkat dari berbagai fakta dan didasari keinginan luhur untuk selalu peduli terhadap remaja, KISARA sejak tahun 1994 telah mengembangkan suatu pendekatan edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas yang praktis dan efektif, berupa prinsip A-B-C-D-E. Metode tersebut diharapkan dapat menanamkan sikap dan konsep yang demokratis guna membentuk remaja yang bertanggung jawab sebagai tulang punggung penerus bangsa dan negara.

Diawali dengan prinsip sebisa mungkin dan seharusnya rekan remaja tidak melakukan hubungan seksual dini sebelum menikah (Abstinensia). Meskipun tidak dipungkiri, ada rekan remaja yang sudah aktif menjalankan aktifitas seksual. Untuk menghindari risiko penularan IMS, maka dianjurkan untuk tidak bergonta-ganti atau hanya setia pada satu pasangan (Be faithful). Pemakaian kontrasepsi sangat dianjurkan bagi yang terbiasa berhubungan seksual bergonta-ganti pasangan terutama penggunaan kondom. Tujuannya guna menghindari penularan IMS di samping mencegah kehamilan pada pasangan muda, namun tetap diberikan masukan untuk mempertimbangkan kembali perilaku seksual mereka yang sangat berisiko tersebut (Condom). Adanya kecenderungan penyalahgunaan Napza yang semakin meningkat, sangat diperlukan himbauan untuk jangan menggunakan Napza terutama yang disuntikkan (Don’t inject), selain larangan penggunaan jarum suntik, tindik atau tattoo secara sembarang tanpa sterilisasi. Akhirnya yang tidak kalah penting adalah keharusan untuk selalu rajin mencari dan menambah informasi-informasi yang benar dan tepat tentang dunia remaja beserta permasalahannya (Education).

********

Daftar Pustaka :

  1. Negara, O.M.I. Desember 2009. Mengenal Problematika Kesehatan Pada Remaja ; Kumpulan Materi Rumpi Remaja Sehat. Denpasar : Klinik Remaja KISARA PKBI Daerah Bali.
  2. Pangkahila, W.I., Pangkahila, J.A., Adimoelja, A. Agustus 2009. Kumpulan Materi Pelatihan Intensif Seksologi (PIS) Basic XII. Denpasar : Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
  3. Pramesemara, I.G.N. Januari 2005. Infeksi Menular Seksual Dan HIV-AIDS, Mari Mengenal Dan Berempati Permasalahannya ; Kumpulan Materi Diklat Relawan Baru 2005. Denpasar : KISARA PKBI Daerah Bali.
  4. Pramesemara, I.G.N. Mei 2006. Kesehatan Reproduksi Rekan Remaja Dan Permasalahannya ; Kumpulan Materi Diklat Relawan Baru 2006. Denpasar : KISARA PKBI Daerah Bali.
  5. Pramesemara, I.G.N. Mei 2006. Remaja Dan HIV-AIDS, Di Balik Realita Dan Kepedulian Untuk Saling Berbagi. Denpasar : KISARA PKBI Daerah Bali.
  6. Tim Penyusun. 2005. Modul 2 HIV-AIDS Dan IMS ; Modul Pelatihan Untuk Guru Pembina Kelompok Siswa Peduli AIDS Dan Narkoba. Denpasar : KPA Provinsi Bali.
  7. Tim Penyusun. 2005. Modul 3 Kesehatan Reproduksi ; Modul Pelatihan Untuk Guru Pembina Kelompok Siswa Peduli AIDS Dan Narkoba. Denpasar : KPA Provinsi Bali.

Contact :

Email : pramareola14@ymail.com

Facebook : pramesemara ign

Twitter : pramesemara (Follow Me!)

One Response

  1. sedikit inform tp bermanfaat ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: