Tantangan Tekanan Sebaya Para Remaja

Beberapa pekan lalu mungkin masyarakat di Bali menyaksikan kehebohan dari sebuah tindakan kekerasan yang dilakukan sekelompok remaja putri yang melabeli diri dengan Geng motor CMP (Cewek Macho Performance). Mereka yang notabene masih tergolong remaja usia sekolah itu tanpa canggung melakukan adegan kekerasan kepada rekan sesama anggota geng. Apa kata dunia?! ketika melihat kondisi seperti ini, apalagi kaum perempuan yang dianggap langka berperan sebagai pelaku kekerasan.

Contoh di atas merupakan salah satu kasus yang terjadi pada remaja yang berentang usia 10-24 tahun. Banyak kejadian negatif sehari-hari lainnya yang juga menggambarkan problematika yang dihadapi kaum remaja. Awalnya diperkirakan selalu akibat dari perilaku-perilaku berisiko para remaja, fase pubertas, pengaruh lingkungan yang buruk, dan ketidakmampuan orang tua dalam mengasuh. Namun melupakan salah satu faktor yang dominan menyebabkan situasi tersebut adalah adanya “Tekanan Sebaya” yang berlebihan pada remaja.

Peer Pressure Di Masa Remaja

Merupakan tekanan sosial dari kelompok atau perseorangan yang mengharuskan seseorang untuk bertindak dan berpikiran dengan cara tertentu, agar dia dapat diterima oleh kelompok  tersebut atau disebut “Tekanan Sebaya” yang sangat terkaitk dengan remaja.

Memasuki dunia remaja, seseorang akan berhadapan dengan lebih banyak hal dan tantangan. Remaja akan mengalami pergolakan hormonal, tekanan sekolah, dan perubahan mood yang drastic, serta yang paling sering dihadapi adalah tekanan dari teman sebaya. Bisa jadi karena gaya hidup teman-teman sebayanya yang berbeda dan diluar nilai keluarga, sehingga terseret. Atau karena nilai teman-teman yang tidak sesuai, sehingga menjadi tekanan tersendiri bagi remaja.

Masa sekolah merupakan tahun-tahun rawan dimana remaja akan mengalami pergolakan emosi untuk memilih lebih mendekat ke teman sebaya dibandingkan orang tua kandungnya. Ketika menjauh dari teman, mereka akan mendapat cap “pecundang” sebagai salah satu ketakutan terbesar.  Untuk menghindari label ini, remaja terkadang akan memberontak, tidak terkontrol oleh orang tua mereka, merokok, penyalahgunaan narkotika, dan meminum alkohol adalah cara termudah untuk menyatakan kemerdekaan.

Lebih parahnya lagi, akibat pergaulan akan muncul fenomena remaja untuk mulai melakukan hubungan seksual secara dini. Beberapa gadis remaja dipaksa untuk berhubungan seksual agar populer atau disukai oleh pria. Sebaliknya anak laki-laki yang tidak bersedia melakukan hubungan seksual akan gadis dianggap lemah. Oral seks (aktifitas seksual dengan menggunakan mulut) menjadi sangat populer di kalangan remaja karena keyakinan bahwa karena tidak ada risiko kehamilan.

Naluri Peer Group

Siapapun bisa mengalami Peer Pressure, walau realita yang  paling banyak mengalaminya adalah kaum remaja. Hal itu karena pada masa itu banyak terjadi perubahan sehingga menjadi lebih sensitif. Masa remaja dikenal sebagai masa mencari jatidiri.

Minat untuk berkelompok menjadi bagian yang alamiah dari proses tumbuh dan berkembang yang dialami pada masa remaja. Bukan sekadar kelompok biasa, melainkan sebuah kelompok yang memiliki kekhasan orientasi, nilai-nilai, norma, dan kesepakatan secara khusus yang hanya berlaku dalam kelompok tersebut yang  disebut Geng yang biasanya berusia sebaya (peer group).

Populari­tas di antara teman sebaya merupakan suatu motivasi yang kuat bagi kebanyakan remaja. Kemajuan-kemajuan dalam perkembangan kognitif selama pertengahan dan akhir masa remaja awal memungkinkan mereka mengambil perspektif kawan-kawan sebaya secara cepat, dan pengetahuan sosial tentang bagaimana menciptakan dan mempertahankan kawan pun meningkat.

Tekanan teman-teman sebaya pada masa remaja dapat bersifat positif maupun negatif. Umumnya remaja cenderung untuk terlibat dalam semua bentuk perilaku yang negatif. Akan tetapi banyak sekali teman sebaya yang tidak negative dengan keinginan lebih untuk dilibatkan dalam dunia teman se­baya, seperti berpakaian seperti teman-ternan, Gaul,  bergosip dan nongkrong bareng.

Selama masa remaja khususnya awal masa remaja, para remaja lebih mengikuti standar-standar teman sebayanya. Saat itu, kemampuan berpikir remaja mulai berkembang. Remaja tidak lagi menelan mentah-mentah omongan orang tua, mereka mulai berpikir kritis, memperluas pergaulan, dan berpaling pada teman-teman sebaya yang dianggap mengerti gejolak emosi. Ketika teman sebaya bisa menghargai dan menerima apa adanya, timbul rasa senang jika berada di antaranya. Tidak heran apabila remaja lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman daripada keluarga.

Cara Menghindari Sisi Negatif

Menghadapi tekanan sebaya, maka orang tua ataupun saudara yang lebih dituakan akan memiliki peranan yang penting untuk membantu remajanya mengatasi agar tidak terjerumus ke dalam hal yang negatif. Berikut tips-tips untuk membantu anak dalam menghadapi buruknya efek tekanan sebaya :

1. Komunikasi terbuka

Selalu cari cara untuk menjadikan komunikasi lebih terbuka dengan para remaja, dan pilihlah komunikasi dua arah. Buatlah kesempatan untuk berbicara, dan mendengar, serta buat janji jika perlu. Bicarakan tentang pengalaman tekanan teman sebaya semasa muda dulu, dan mengakui sebagai sebuah tantangan.

2. Jadilah role model

Jadikan pengalaman sebagai contoh, tapi pastikan bahwa mempergunakan pengalaman yang sehat saat bersama teman-teman sebaya semasa muda dan ceritakan bagaimana menghadapinya.

3. Dukung identitas diri yang kuat

Carilah cara untuk membantu remaja mengembangkan kepribadian yang kuat dan penghargaan diri. Bisa dalam bentuk aktifitas olah raga, les atau kursus, atau ketertarikannya yang lain.

4. Peran yang menantang

Jika remaja menghadapi masalah dengan rekan sebayanya, gunakan role playing untuk membantunya merespon masalah tersebut dengan kepercayaan diri dan bahasa yang tepat. Pertimbangkan situasi, biarkan remaja memahami posisi dirinya, dan bantulah mengidentifikasi masalah tersebut.

5. The Power Of Laugh

Ingatlah selalu ada kekuatan dibalik setiap tawa dan kebahagiaan. Bantulah remaja menemukan kebahagiaan dan keceriaannya dengan pilihan dan lingkungan yang menyehatkan dan positif.

Bagi para remaja, jika merasa tertekan dengan lingkungannya, segera mencari haluan yang baik yang memang sesuai dengan diri Kita. Jangan memaksakan diri untuk diterima dalam kelompok sehingga membuat diri Anda tertekan. Maknailah positif setiap hal yang terjadi dan tak lupa untuk selalu hidup sehat. Viva Remaja….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: